Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

Kasih yang Menyempurnakan (Perhentianku di SLB/G Helen Keller, Jogja 8 Feb 2016)

Terik matahari tak menyurutkan niatku tuk melangkahkan kaki di kota Gudeg. Sudah sekitar 1,5 jam’an aku duduk didalam bus dari Magelang menuju Jogja. Pengap. Panas. Maklum itu bus ekonomi tanpa AC.
“Jombor…Jombor…Terminal..” teriak kernet bus mengagetkanku.
Sontak aku langsung berkata pada pak kernetnya,
“Pelemgurih ya pak jangan lupa”
Menurut arahan dari temanku Suster Veronika, PMY, jika sudah melewati Terminal Jombor berarti sudah mendekati tempat dimana aku harus turun yaitu Pelemgurih. 

Beberapa menit kemudian bus berhenti di Pelemgurih. Mataku mulai berkeliaran mencari becak. Baru 2-3 langkah tiba-tiba ada seorang bapak meneriakiku dari dalam warung.
"Mbak..ojek?”
Aku mendekatinya dan menanyakan tarif ojek sesuai tujuanku. Setelah sepakat kami langsung meluncur mencari alamat yang aku tuju. Eh ternyata bapak ojeknya ga hafal jalan jadi kami putar-putar dan tanya ke tukang parkir. Dalam hatiku kalau tidak tau jalan kenapa ngojek pak. Berulang kali bapak tersebut meminta maaf karena tidak hafal jalan. Awalnya aku dongkol tapi itu tak lama karena teringat kalau aku pun juga susah untuk menghafal jalan.

Sesampai ditempat tujuan aku menunggu Sr.Veronika,PMY di teras Sekolah Luar Biasa (SLB). Aku baru sadar kalau yang kutuju adalah SLB beserta asramanya. Kukira Sr.Vero itu tinggalnya di sebuah susteran biasa tanpa jadi satu dengan SLB.

Suster Veronika,PMY adalah buah perkenalanku di acara Temu Kaum Muda Vinsensian (TKMV) 2 tahun yang lalu. Kebetulan aku menjadi sie keskretariatan dan menangani registrasi. Sehingga tugasku mengontak dan meminta konfirmasi dari masing-masing peserta untuk bisa atau tidaknya hadir dalam acara tersebut. Komunikasi kami tidak berhenti di acara itu. Beberapa kali kami masih komunikasi menanyakan kabar. Hingga hari itu kebetulan posisiku di Jawa Tengah sehingga mengajaknya untuk ketemuan.

Ia mengajakku masuk, memperkenalkan beberapa suster yang lain dan mempersilahkan aku untuk makan. Setelah itu kami ngobrol panjang lebar. Obrolan kami terhenti karena ada anak usia 9 tahun teriak-teriak tidak jelas ngomongnya sambil menangis.  Ternyata anak itu rewel karena sedang menstruasi. Itu adalah pengalaman pertamanya merasakan menstruasi sehingga merasa tidak nyaman tapi tidak bisa menyampaikannya dengan jelas. Ia tak bisa bicara dan mendengar dengan baik. Kata Suster ibunya berulang kali sudah di telephone untuk menengok anaknya tapi belum bisa karena sibuk.

Melihat gadis itu membuat aku penasaran dengan anak asrama yang lain. Aku pun meminta ijin untuk mengunjungi asrama SLB. Berhubung masih jamnya tidur maka baru bisa mengunjungi mereka pukul 16.00.  Sr. Vero mengajak aku untuk merebahkan diri sesaat. Lumayan bisa meluruskan punggung sambil menunggu anak-anak bangun.

Pukul 15.45 aku sudah bergegas tuk mandi dan siap bertemu dengan anak-anak. Kuturuni tangga dari lantai 3 kamar yang kuhuni sesaat. Sampai dilantai dasar ada beberapa ruang yang kulewati sampai ke asrama SLB. Dari ruang makan asrama sudah terdengar suara gaduh anak-anak. Begitu memasuki ruang sumber suara itu aku hanya berdiri diam terpaku.
“ Mbak Sari takut ya?” celetuk Sr. Vero
Iya ada rasa takut dan tidak tahu mau ngapain melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya ini. Ada rasa waspada jika tiba-tiba anak-anak itu menyerangku. Ada 10 anak dan 2 ibu-ibu pendamping yang ada di ruangan sebesar kira-kira 6m x 6m.  Aku duduk di tikar mendekati anak perempuan yang tertunduk diam sesekali ia teriak. Kulitnya putih keturunan Tionghoa. Ia memegang tanganku dan memberi isyarat yang kata Suster itu artinya kue. Mungkin dia meminta kue dariku. Lalu ibu pendamping memanggilnya menawari permen.
“ Mau permen ga?ayo berdiri diambil” Aku mengulang beberapa kali tawaran ibu itu supaya ia mau berdiri mengambil permen diruang makan.
Dia mengajakku untuk mengambil permen dengan menyeret tanganku. Tapi kata ibu itu biarkan sendirian supaya dia menghafal ruangan. Dia low vision,tidak bisa berbicara dengan jelas tapi untuk mendengar dia masih bisa walaupun harus diulang-ulang. Orang tuanya sudah membawanya berobat ke Jakarta bahkan sampai Singapore. Oh dia anak orang berada pikirku.

Di ujung ruangan itu ada anak laki-laki berdiri sambil tanganya merogoh rak buku. Ditanya pendampingnya apa mau baca, ia pun mengangguk. Si ibu itu mengambilkan beberapa lembar bagian dari majalah untuknya. Tampak wajahnya sumringah. Buku itu diremas-remas dan dipukulkan kemukanya. Sepertinya dia juga low vision jadi baca pun juga kesulitan. Memberikan beberapa lembar majalah adalah cara menghiburnya.

Ada lagi bocah laki-laki yang kesulitan berbicara mendorong-dorong rak kayu / bufet. Lalu naik-naik ke jendela mainan kipas angin. Dia gelisah karena papanya yang janji jemput jam 16.00 tak kunjung datang. Padahal dia sudah siap jauh sebelum pukul 16.00 dengan sepatu ket dan jaket merah beserta tudung kepalanya. Keren bocah itu.

Tiba-tiba ada anak laki-laki usia sekitar 5 tahunan mencium pipiku. Aku kaget dan ibu-ibu itu tertawa sambil memperingatkan anak itu kalau ga boleh cium-cium kayak gitu. Lalu ibu itu menjelaskan kalau dia suka dengan gambar. Dan bajuku ada gambar bunganya maka dari itu dia menyerangku dengan ciuman.

Tidak berhenti diserang ciuman saja. Anak gadis berusia 5 tahunan menyerangku dengan pelukan. Dia mendatangiku lalu duduk dipangkuanku dan mendekapku. Mungkin dia mencari kenyamanan. Untung aku sudah mandi sehingga tak membuat anak itu pingsan.

Berhubung keberangkatan bus yang sudah aku pesan tiketnya beberapa hari yang lalu berangkat pukul 19.00, aku keluar asrama makan dulu  bersama Sr.Vero.  Ketika hendak keluar melewati meja makan asrama ada gadis cilik yang ketika kudatang tadi hampir rewel usai bangun tidur. Ternyata dia anteng duduk dimeja makan sambil makan kacang kulit. Lucunya dia mengupas kacang tak langsung dimakan. Biji kacang yang telah dia kupas dikumpulkan dalam lepek. Menggemaskan melihatnya.

Setelah makan aku kembali ke asrama sambil berpamitan. Tapi sayang para suster sedang ada doa. Sehingga aku hanya menuliskan pesan terimakasihku dipapan tulis. Tak lupa aku berpamitan dengan ibu-ibu pendamping asrama yang sedang repot menemani anak-anak makan malam. Sambil menunggu ojek menjemputku, aku dan Sr.Vero duduk di ayunan. Ada keluarga datang menjemput. Yup mereka keluarga yang dinanti bocah laki-laki keren yang gelisah menanti  jemputan tadi. Kakak perempuannya berambut panjang dan cantik. Adik perempuannya juga cantik. Dia pun juga keren walaupun berkebutuhan khusus.

Di SLB ini para suster PMY, ibu-ibu pendamping dan para guru mendidik mereka agar mereka bisa mandiri sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena kebutuhan tiap-tiap anak penyandang ketunaan itu berbeda-beda. Mereka mendidik dengan kasih sehingga anak-anak merasa nyaman dan tidak terasing dengan kekurangan mereka.

Berbeda dengan sanggar anak jalanan / pinggiran yang biasa aku dampingi di Surabaya. Di sanggar, anak-anak kekurangan materi. Kebutuhan sandang,pangan, papan mereka tidak terpenuhi dengan baik. Di SLB ini keluarga mereka banyak dari keluarga yang berada walaupun ada juga yang kurang mampu. Orang tua mereka sanggup dan mengusahakan apa yang mereka minta dan butuhkan. Tapi ketunaan dan berkebutuhan khusus itu yang membuat mereka terbatas untuk bertindak dan mengeksplore kemampuan mereka.

Perhentianku dijogja yang hanya beberapa jam ini membuat aku makin bersyukur dengan keadaanku yang tak kurang satu apapun bisa pergi kesana kemari. Berteriak-teriak ataupun berbisik-bisik orang akan paham dengan maksudku. Sedangkan mereka untuk mengungkapkan rasa saja susah. Orang tua mereka bisa dikatakan berduit bisa mengobatkan ke Singapore dll tapi apa daya uang tak bisa menyempurnakan kondisi mereka. Hanya kasih dan ketlatenan yang membuat mereka sempurna. Itulah visi misi dari para suster PMY ini melayani yang lemah, kecil dan tersingkir.
Duo Veronika





Rabu, 20 Januari 2016

Penghuni Lain di Kepala

“ Ya ampuuun jaman kayak gini masih kutuan?”

Komentar mamaku ketika kuminta untuk metani alias cari kutu yang ada dirambutku.
Memang semua serba modern tapi masih ketemu yang namanya kutu sepertinya terdengar lucu, menjijikkan bahkan mungkin yang dengar akan siap-siap jaga jarak dari si penampung kutu itu.
        Semua itu berawal dari gatal-gatal di rambutku. Kukira itu adalah ketombe makanya saya coba ganti shampoo koq ternyata masih terasa gatal tapi ketombenya ga ada. Katanya sichh gatal karena beruban. Hmmmm masa saya udah beruban? Kecurigaanku mengarah kepada kutu. Karena selama mendampingi anak-anak jalanan / pinggiran di sanggar, saya melihat hampir semua anak berkutu. Atas beberapa saran untuk mengatasi kutu saya mulai mencoba membasmi si imut yang bikin garuk-garuk kepala ini.

  • Keramas dengan mengusapkan kaos putih dikepala. Kaos putih polos atau semacam kaos dalam diusap/digosokkan ke kepala saat rambut penuh dengan shampoo. Nah disitulah kutu akan menempel di kaos. Pertama kali aku mecobanya 1 ekor dapat dieksekusi. Lalu aku terus mencari sampai total ada 6 ekor.
  • Menggunakan cem-ceman minyak kayu putih yang dicampur jeruk nipis. Minyak kayu putih dicampur jeruk nipis lalu dioleskan ke kulit kepala dan dibiarkan minimal 2 jam. Setelah 2 jam rambut dikeramasi dengan menggosokkan kaos putih dan hasilnya 1 ekor masih ikutan nempel dikaos.
  • Dipetani alias minta tolong orang lain untuk mencari kutu dirambut. Sewaktu dipetani tak ditemukan kutu yang ada cuma lisa/telur  yang sudah kosong sejumlah 7.
       3 saran tersebut aku coba dan hasilnya gatal berkurang dan ketika dipetani kutu sudah tak dapat ditemukan. Dari gatal-gatal sampai kutu bersih saya hanya membutuhkan waktu seminggu.  Menurut sumber dari internet, kutu betina dapat menghasilkan 8 telur setiap harinya dan di hari ke 8/10 akan menetas. Nah bisa dibayangkan kan kalau kita ga segera membasmi akan berapa puluh ekor kutu yang menghuni rambut. 
              
Penampakan kutu pertama yang berhasil dieksekusi dengan usapan kaos putih
  

       Mungkin itu salah satu resiko mendampingi anak sanggar. Tapi bukan berarti berhenti mendampingi mereka.  Ada cara untuk tetap mendampingi tanpa tertular kutu rambut. Berikut tips supaya meminimalisir  tertular kutu rambut:

  • Ikatlah rambut terutama yang berambut panjang supaya tidak berkibar-kibar rambutnya. Karena kutu mudah sekali loncat ke rambut-rambut.
  • Jika anak-anak meminjam sisirmu, cek dan bersihkan sisir tersebut setelah mereka pakai sebelum menyisir rambutmu.
  • Jika rambut terasa gatal segeralah keramas dengan mengusap rambut menggunakan kaos putih. Hal itu bisa sebagai survei apa rambut kita sudah berpenghuni atau gatal kena ketombe :D
Selain memperisai diri supaya tidak tertular, saya masih belum menemukan cara bagaimana memberantas kutu di rambut anak-anak. Kasihan jika melihat mereka garuk-garuk kepala terus ketika bermain. Tapi ada juga anak yang punya banyak kutu tapi tidak merasakan gatal mungkin karena sudah kebal.  Jika diberi pengarahan supaya keramas teratur dan dipetani mereka pasti akan tertular lagi karena teman-teman mereka di sekolah, ditempat bermain juga banyak yang kena kutu rambut.

Rabu, 29 Juli 2015

Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru


“Seneng banget mbak…ini di suruh buat mos mbak”
Balasan pesan yang kutunggu-tunggu sedari pagi akhirnya datang juga. Aku membaca pesan tersebut dengan senyum merekah. Ada secercah harapan untuk ia kembali semangat bersekolah batinku. Itu adalah balasan dari Firda anak dampingan sanggar yang memasuki ajaran baru di bangku SMP. 

Mungkin hal biasa melihat anak memasuki ajaran baru tapi bagiku kasus Firda beda. Sehari sebelumnya Firda yang oleh Jon & Andi selaku kakak sanggar harus menjemput dia di acara nikahan saudaranya di Jombang. Karena kalau ga dijemput dia akan balik Surabaya hari Senin bersama keluarganya. Padahal Senin adalah hari pertama dia harus masuk sekolah apalagi banyak persyaratan sekolah yang belum ia tuntaskan. 

Seperti beberapa waktu lalu sebelum UNAS, si Firda bolos sudah lumayan lama dan dia takut kembali ke sekolah karena ia kira sudah dikeluarkan. Akhirnya beberapa kakak sanggar mendatangi sekolahannya untuk menanyakan statusnya. Puji Tuhan ternyata Firda masih diberi kesempatan untuk kembali bersekolah dan mengikuti UNAS. 

Firda bungsu dari 2 bersaudara. Ia tinggal dengan neneknya yang berprofesi sebagai tukang kebun disebuah RS. Orang tuanya sudah bercerai. Sang bapak jarang sekali memperhatikan kebutuhan Firda sedangkan sang Ibu yang berprofesi membantu memasak disebuah warung juga kesusahan untuk membiayai sekolahnya. Jadi bisa dikatakan Firda kehilangan perhatian dari kedua orang tuanya. Apalagi lingkungan tempat Firda tinggal, banyak teman-temannya putus sekolah. Sehingga membuat firda kurang bersemangat dalam sekolah. 

Dengan kondisi yang seperti itulah ga hanya sekedar materi yang dibutuhkan tetapi kami harus memompa semangatnya agar tetap niat bersekolah. Tadi pagi Mas Heru, kakak sanggar info saya apa bisa kontak dengan Firda karena dari tadi pagi ga bisa dihubungi. Mas Heru mencoba membangunkan Firda dan mengantarnya ke sekolah. Karena ga bisa dihubungi itulah ia langsung beranjak kerumah Firda, bayanganku dia masih tidur karena terbiasa bangun siang selama sebulan liburan. Ternyata kata orang sekitar rumahnya Firda sudah berangkat sekolah. Setelah di cek ke Sekolah ahhh syukurlah dia bisa lebih pagi dari kakak2 sanggar untuk tiba disekolah. 

Semoga niatnya bersekolah tak padam lagi dan semoga semangat kami para pendamping terus berpijar agar tetap setia memberi cahaya kepada Firda dan anak-anak lain yang kurang mendapat perhatian.

Rabu, 25 Februari 2015

Ujianmu nak...

Sore itu cerah, kuparkir motorku disamping sanggar dan kulihat banyak anak sudah berkumpul. Di teras sanggar beberapa anak usia TK-SD kelas 3 bergerombol dengan salah satu pendamping. Aku masuk dan ikut nimbrung dengan anak yang lebih dewasa sekitar SD kelas 4 keatas. Ada yang asik makan rambutan dan sepasang sedang bermain catur. Aku mengikuti jalannya permainan catur itu sampai seorang bocah curhat kepadaku masalah sekolahnya aku tak menyadarinya. Si bocah itu menepuk pahaku, “ mbak rungokno aku ta”.  Aku pun terkejut. Dalam hati aku tadi melamun atau asik mengikuti permainan catur ya. Hari-hari ini otakku serasa ruwet full sampai2 bocah itu curhat soal sekolahnya  aku hampir tak bisa memberinya solusi,motivasi ataupun nasehat. Yang bisa kulakukan hanya mendengarkan dengan seksama. Walaupun hanya didengar, dari raut wajahnya Nampak sumringah lega bisa ngeluarin uneg-unegnya.

Kegiatan pun beralih ke latihan persiapan pentas. Sebagian anak yang telah dipilih untuk tampil dipentas langsung mengambil posisi masing-masing. Sedangkan aku beranjak ke teras untuk mendampingi anak-anak yang sedang menggambar. Sesekali aku memperhatikan anak-anak yang sedang latihan. Celometan dan tingkah mereka bebas banget dan kocak,membuat orang yang nonton senyum2 kadang tertawa geli. Sampai-sampai pendamping yang sedang melatih kewalahan untuk mengajak konsentrasi. Yah tapi itulah anak-anak.

Entah awalnya bagaimana tiba-tiba kami pendamping sedang membahas salah satu anak. Anak itu lincah dan menyenangkan. Tapi ternyata dibalik semua itu ada kisah yang memilukan. Ia habis dihajar oleh ayahnya lalu ketempat ibunya berharap mendapat perlindungan ternyata malah dihajar pula. Akhirnya ia kabur dari rumah dan diberi tumpangan oleh pemilik warnet. Seusai anak-anak pulang dan sanggar mulai sepi tiba-tiba mendengar kabar bahwa ibu anak tersebut meninggal. Hmm barusan aja dibahas kasusnya eh sekarang nambah lagi ujian anak itu.

Kami para pendamping menyusul kerumah duka. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Air mataku pun hampir tumpah. Beberapa menit yang lalu anak itu tertawa terbahak-bahak dengan teman disanggar, pulang-pulang mendengar kabar ibunya telah tiada. Tak sempat ia berdamai dengan ibunya sekarang melihat tubuh terbujur kaku tepat 8 hari lagi dia genap berusia 11 tahun.


Jika aku melihat dengan kacamataku, begitu banyak ujian yang ia hadapi diusianya yang sangat dini. Hidup pisah dari orang tua, sekarang malah kehilangan salah satu ortunya. Dulu ketika usiaku sebelas tahun adalah masa-masa yang menyenangkan. Masa dimana aku dapat bermanja dan bersenda gurau dengan ortuku. Dengan menoleh ke kehidupan anak itu membuatku bersyukur atas ujianku sekarang. Berhari-hari merenungi ujian ga ada gunanya, memang sudah saatnya beranjak dan menjalaninya. Semoga anak itu selalu dapat bertahan di tiap lika liku kehidupan dan dapat mengejar mimpi-mimpinya.

Rabu, 01 Oktober 2014

Saat Dilanda Kemacetan

Music by Enya terdengar dari headset yang kupasang ditelinga kiri mengiringi perjalananku pulang kantor menuju rumah dihari ke 19 bulan September 2014. Jalanan rame dan macet tidak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin karena jumat banyak yang ingin segera pulang dan menikmati weekend. Sesampainya di jalan sekitar Adityawarman tepatnya sebelah Toserba, jalanan mulai macet cenderung berhenti kadang sedikit-sedikit merambat. Melihat antrean panjang kendaraan membuat aku makin lesu. Apalagi dengar alasan macet karena jalan ditutup untuk persiapan acara peringatan 5 Oktober. Haduhhhh acara masih 2 minggu lebih kenapa menutup jalan mulai sekarang.

Alunan music pun tak dapat mengademkan suasana hati. Sampai mataku tertuju pada anak perempuan usia sekitar 6 taunan. Ia memakai atasan pink dan celana panjang krem yang bagian pantatnya kotor mungkin akibat duduk disembarang tempat yang mudah meninggalkan noda. Tangan kirinya menggenggam plastik es yang telah habis dan menyisakan es batunya saja. Sesekali ia sedot berharap es batu tersebut mencair sedikit demi sedikit. Sedangkan tangan kanannya mendorong gerobak sampah yang ditarik oleh bapaknya. Sesekali tangan kirinya pun juga turut mendorong gerobak. Lalu selang beberapa menit datanglah perempuan mendekatkan motornya pada gerobak sampah. Ia mengulurkan tangan yang menggengam sejumlah uang dan diberikannya ke anak kecil tersebut. Setelah itu segera berlalu mencari celah agar motornya cepat melaju dari kerumunan macet. Anak itu berjalan menyusul bapaknya yang ada dimuka gerobak,
“Pak iki lho” sambil tangan kananya memberikan uang kepada bapaknya.
“ Lho teko sopo?”
“Teko mbak iku.” Kepalanya memberi isyarat menunjuk pada permpuan yang memberinya tadi.
Aku sudah berada didepan mereka dan mencuri-curi pandang penasaran sambil melihat anak tersebut dari spion motor. Diusianya yang masih dini harusnya ia bermain dan bersenang-senang bersama teman-temannya tapi malah membantu bapaknya mendorong gerobak sampah. Setelah diberi uang tidak disimpan dan digunakan untuk kesenangannya malah diberikan semua kepada bapaknya. Seolah ia paham betul akan kebutuhan orang tuanya sehingga rela memberikan uang yang diperoleh untuk bapaknya supaya dapat digunakan menyambung kebutuhan hidup. Berbanding terbalik dengan anak-anak yang sempat aku beri les privat dulu ketika masih kuliah. Tiap aku datang memberi les, pembukanya tak jarang mereka menunjukkan mainan baru dari orangtuanya. Belum cukup mainan-mainan itu seusai les pun kadang ada yang menagih janji orang tuanya untuk membelikan es krim,mainan atau pergi ke mall jika mereka rajin dan menurut saat les.

Tak terasa akhirnya motorku pun lolos dari kemacetan dan dapat melanjutkan perjalanan dengan lancar. Walaupun masih terngiang dengan potret kehidupan anak perempuan pendorong gerobak sampah yang aku lihat tadi. Ada pertanyaan yang terbesit dibatinku, Ia membantu orangtuanya pilihan dia sendiri atau dipaksa oleh orang tuanya ya. Meskipun dipaksa dari raut wajahnya tak menyiratkan wajah yang grundel karena terpaksa. Padahal ia dalam keadaan berat ketika mendorong gerobak,belum lagi suasana yang bikin gerah wajahnya tetap adem. Berbeda dengan wajah kami yang kusut, lesu, ga sabaran saat dilanda macet. Wajahnya yang adem mengajarkanku untuk tetap tenang dan menikmati ritme kehidupan meski kadang tak selalu mudah, berbatu terjal dan penuh liku.

Selasa, 03 Juni 2014

Ketika Mentari Kembali ke Peraduannya

Sang mentari perlahan kembali ke peraduaannya. Suasana malam yang tak biasa aku jumpai di kotaku Surabaya. Gelap, listrik belum masuk di dusun Sungai Dungan,Kalimantan Barat ini. Kami siap bergegas menuju hilir dengan lampu senter sebagai penerang jalan untuk berdoa Rosario bersama. Berjalan harus hati-hati karena kalau tidak akan menginjak ranjau dari kotoran sapi ataupun babi. Sesekali aku menyorotkan senterku ke sekeliling,wah ternyata sapi- sapi juga bergerombol sedang istirahat. Sapi ataupun babi di dusun ini di biarkan bekeliaran begitu aja tanpa di buatkan kandang. Saat itu ada 1 rumah tepat di sebelah kanan dalam perjalanan menunju hilir yang terang ternyata mereka menggunakan diesel sebagai pembangkit listrik.

Aku tak bisa melihat dengan jelas bangunan sekelilingku. Jika senter kuarahkan agak tinggi ke sekeliling dan mengenai mata orang lain takut membuat silau, jadi senter hanya aku buat untuk menerangi langkahku beberapa meter dari tubuh dengan sudut jatuh ke bawah. Dalam hati mana ya rumah yang akan di tuju. Nah, ketika langkah teman-teman mulai terhenti, pelan-pelan kami memasuki sebuah rumah yang Nampak dari pintu yang terbuka seperti ada pelita yang menerangi. Di dalam ternyata sudah berkumpul anak-anak duduk melingkar bersandar dinding rumah yang terbuat dari kayu. Setelah masuk melewati pintu utama aku duduk di sebelah kiri tak jauh dari pintu tersebut. Di dalam rumah ini tak perlu senter karena ada beberapa pelita tersebar di tengah-tengah kami yang sedang duduk melingkar. Pelita itu terbuat dari kaleng atau botol kaca bekas yang di beri sumbu dan di isi dengan bahan bakar.

Selang beberapa menit sejak kedatangan kami, seorang anak mulai memimpin doa Rosario tersebut. Butir demi butir Rosario telah kami doakan bergilir berlawanan dengan arah jarum jam. Yang hadir dalam Doa Rosario tersebut sekitar 25 orang mayoritas anak-anak dan hanya 7 orang dewasa dari rombonganku termasuk Ibu yang tinggal di rumah tsb. Sehingga ketika Doa tersebut di doakan bersama-sama yang lebih menonjol adalah suara anak-anak. Suara mereka bagaikan malaikat yang sedang bernyanyi. Apalagi suasana remang-remang menambah kekhusukan doa tersebut. Dari awal doa,nyanyian dan hingga pada akhir, anak-anaklah yang memimpin,mungkin dari awal sudah ada pembagian tugas sehingga waktu doa mereka langsung melaksanakan tugasnya masing-masing.

Usai doa, ibu yang empunya rumah mengeluarkan kudapan untuk kami yang hadir. Kudapan itu berupa ketan yang di beri parutan kelapa dan di letakkan di atas piring. Kami menikmati kudapan tersebut 1 piring untuk beberapa orang karena yang tersedia hanya beberapa piring. Tak lama kemudian bapak yang sekaligus kepala dusun memasuki rumah tersebut dan membawakan kopi dalam 1 teko dan beberapa gelas untuk rombongan kami. Dalam hati oh my God kopi lagi. Dari pagi sampai malam itu mungkin aku sudah 3 atau 4 kali minum kopi. Sedangkan biasanya sekali minum kopi bisa membuat mataku melek sepanjang hari tidak hanya itu kadang lambungku juga bermasalah kalau kebanyakan. Maka dengan berat hati aku tak minum kopi yang bapak itu suguhkan. Eitss menolak pemberian di sini ga hanya sekedar menolak tapi harus posek-posek kalau ga gitu bisa kena mali. Posek-posek itu dengan mencelupkan atau menyentuh makanan yang di suguhkan ke jari setelah itu menjilatnya. Kalau aku bilang sich mencicipi. Sedangkan mali itu sendiri artinya pantangan kalau dalam jawa hampir mirip dengan pamali. Menurutku hal itu bertujuan untuk menghargai orang yang sudah menyediakan untuk kita.

Semalam di dusun Sungai Dungan ini membuatku merasa nyaman hidup jauh dari sarana dan prasarana modern. Tanpa ada listrik mereka masih bisa berdoa dengan khusuk,belajar dalam remang-remang, tidak autis dengan telephone genggam. Ga ada kemacetan yang ada malah mereka bisa bermain puas dengan lahan yang amat berlimpah ruah.
Menyantap Kudapan Usai Doa Rosario

Kamis, 20 Maret 2014

Belajar Solidaritas darimu


13E!!! senyumku langsung merekah melihat angka itu. 13 E adalah nomor seatku di Kereta Api Penataran jurusan Malang-Surabaya yang aku tumpangi.
“nang kene ta mbak?” aku mengganggukkan kepala menjawab pertanyaannya sambil tos dengannya. Dia anak laki2 yang tiba lebih dulu di bangku sebelahku. Perjalananku kali ini bersama anak-anak dari salah satu sanggar di Surabaya yang usai tampil di Malang.
Beberapa anak sudah kelihatan capek maklum mereka sejak Jumat berada di Malang. Dan kegiatan-kegiatan juga sudah mereka lakukan sehingga di akhir acara yaitu perjalanan pulang ini mereka nampak letih. Maka dari itu mereka sudah tak banyak beranjak dari bangkunya tidak seperti perjalanan waktu berangkat ke Malang yang sangat aktif ada yang becanda,main alat music, bernyanyi dan masih banyak lagi. Bisa jadi karena perjalanan pulang ini penumpang kereta lumayan padat sehingga membatasi gerak mereka.
Di tengah-tenngah suara kereta yang sedang melaju kami mulai membuka nasi yang memang dari awal tiap anak di bekali 1 kotak nasi untuk dapat di makan saat di kereta. Ada beberapa anak yang masih kenyang karena sebelum berangkat sudah makan,sehingga mereka menunda makan saat itu,ada pula yang langsung melahap makanan tersebut.
“Laper??” aku membuka obrolan dengan anak di sebelahku
“iya mbak” jawabnya sambil melahap makanan yang ada di pangkuannya.
Terlihat menyenangkan melihatnya makan hehehe. Saat nasiku mulai tinggal setengahnya aku melihat nasi anak tersebut masih tersisa banyak dengan lauk yang hampir utuh tetapi ia sudah menutup kotaknya dan tetap memangku nasinya. Hmmm aku pikir dia ga cocok lauknya atau dia sudah kenyang achh ga mungkin karena awal makan tadi ia sangat lahap.
“opo’o ga di habiskan?” celetukku padanya
“gpp mba’ ta buat orang rumah aja”
Seketika itu juga nasi yang sudah ada di dalam mulutku susah di telan. Seperti ada yang mengganjal di tenggorokanku. Aku terdiam sesaat membayangkan biasanya aku selalu makan ga habis, di luar aku makan enak tapi orang tua dan adikku di rumah sudah makan atau belum juga tak tau, makan dengan lauk apa juga tak tau. Hari itu aku belajar apa arti solidaritas dari anak tersebut. Solidaritas yang iya tunjukkan untuk keluarganya dengan berbagi makanan yang harusnya ia sendiri sebetulnya belum kenyang betul. Mungkin ia ingin berbagi supaya apa yang ia makan dan rasakan juga di rasakan oleh keluarganya.
Tak hanya itu saja yang membuatku tercengang. Ketika aku memberikan telurku padanya pun dia menolak. Padahal ku kira dia akan menerima supaya bisa jadi tambahan bekal untuk di berikan ke keluarganya. Akhirnya secara diam-diam aku memasukkan telur itu ke dalam kotaknya tanpa sepengetahuannya. Entah apa sebenarnya yang di pikirkan anak itu sehingga ia menolak pemberianku. Meskipun ia kekurangan tetapi tak sembarangan menerima pemberian orang lain. Tidak seperti sebagian orang2 dewasa yang makin serakah,sudah di beri kelimpahan masih dengan senang hati menerima pemberian orang lain yang kekurangan bahkan ada juga yang sampai merebut  hak orang lain.
Sungguh pelajaran berharga buatku melalui kejadian-kejadian kecil yang di tunjukkan anak itu padaku. Belajar itu ga perlu dari yang lebih senior atau yang lebih tinggi sekolahnya atau lebih pengalaman dari kita. Semua guru semua murid di mana pun kita berada pasti akan mempelajari hal-hal baru tinggal kita yang harus memahami dan memaknai  tiap kejadian atau situasi kondisi saat itu.



Selasa, 24 September 2013

Bantuan Sederhanamu Membuat Aku Tertegun

Seusai acara memperingati HUT sebuah sanggar di Surabaya saya dan beberapa rekan mulai merapikan ruangan,membuang sampah dan kegiatan lain untuk mengembalikan ruangan tersebut seperti semula. Ketika aku membereskan air mineral cup yang masih utuh ke dalam kardus-kardus kosong, tiba-tiba dari belakang ada anak kecil yang turut membantuku. Padahal teman sebayanya sebagian sudah pulang kerumah dan banyak pula yang bermain-main di luar halaman gedung. Yang ada di pikiranku ach mungkin anak ini menginginkan air mineral untuk di bawa pulang atau bisa jadi dia ingin kardus kosongnya untuk di kumpulkan (karena mereka adalah anak-anak pinggiran yang bagi mereka kardus sangat berarti jika mereka kumpulkan). Setelah selesai merapikan aku menawarkan air mineral atau kardus kepadanya tapi dia menggelengkan kepalanya lalu beranjak keluar. Aku hanya tertegun diam dan melihat anak itu keluar sampai hilang dari pandangan mataku. Ternyata aku salah tafsir dia benar-benar membantuku tanpa menginginkan imbalan apapun.

Jarang bahkan sangat sulit di temui orang membantu tanpa pamrih di jaman sekarang ini. Kadang kita meminta bantuan ke orang lain susah sekali kalau ga gitu mereka mau bantu asalkan atau ada syarat tertentu. Atau bisa jadi orang pura-pura ga tau dengan masalah atau penderitaan orang lain. Masa bodoh dengan penderitaan atau kesusahan orang lain, “masalahku aja belum kelar ngapain bantu orang lain”. Padahal pada hakikatnya manusia diciptakan saling tolong menolong lho.. Membantu orang lain juga ga perlu harus sampai menuntaskan masalahnya,hanya dengan memberi perhatian kita atau menjadi pendengar yang baik itu juga sangat
membantu meringankan beban orang lain.