Selasa, 25 Februari 2014

Cagar Budaya di Tengah Kota Surabaya

Saat asyik menikmati semangkok bakso Jalil tiba-tiba mata fokus melihat segerombol turis turun dari 2 bis menuju ke Arca Joko Dolog. Teman saya langsung nyeletuk "emang kamu sudah pernah masuk ngeliat arca itu?"

Yup setiap pagi sewaktu berangkat ke kantor selama hampir 4 tahun saya melewati arca tsb (kebetulan kantor saya dekat dengan arca Joko Dolog)tak pernah sekali pun saya luangkan waktu untuk mampir dan masuk ke area arca hehehe. Harusnya malu sich dengan para turis yang jauh2 datang untuk melihat,mengagumi bahkan ingin mengetahui sejarah arca Joko Dolog. Dalam hati pun juga bertanya-tanya sapa ya Joko Dolog itu. Koq di tengah2 kota gini ada arca. Dengan bantuan mbah Google ketemulah jawabannya......berikut sekelumit rangkuman beberapa sumber dari mbah Google.

Nama Joko Dolog berasal dari sejarah penemuan arca itu sendiri. Arca tsb di temukan warga di bawah Kayu jati gelondongan (Dolog) dan kata Joko di ambil dari kata Jogo yang kemudian di ucapkan warga menjadi Joko. Konon katanya arca ini merupakan bentuk penghormatan Raden Wijaya (Raja pertama di Kerajaan Majapahit) terhadap Kertanegara (Raja terakhir dari Raja Singosari). Arca ini terletak pada pusat kota. Tepat samping Taman Apsari depan Grahadi ada gang masuk tinggal lurus aja. Dari beberapa meter nampak sejuk sekali karena di dalam area Arca ada pohon beringin yang lumayan besar sehingga buat suasana nyaman dan adem.


Para Turis sedang berkunjung ke Arca Joko Dolog
Maap Fotonya ga jelas karena ambil diam2 dari tempat makan bakso hehehehe. Ntar dech tunggu trip saya selanjutnya dan saya sempatkan mampir ke Arca Joko Dolog ini. Pastinya akan lebih saya gali info serta foto arca tsb...http://eemoticons.net

Jumat, 24 Januari 2014

Dolan Sambil Belajar di Salatiga


Bingung memilih… Yup itulah yang kurasakan saat harpitnas di pertengahan January 2014. Bingung memilih ke arah mana kakiku melangkah untuk melepas penat alias dolan a.k.a mbolangtersenyum lebar Ada beberapa tawaran dari teman-teman yang menarik dan ingin ku ikuti semua seperti wisata ke Gunung Kelud, mendaki Gunung Penanggungan dan ke Salatiga. Tapi raga ini hanya satu jadi aku harus memilih dengan berbagai pertimbangan, kesehatan dan yang paling utama perijinan ortu akhirnya pilihanku jatuh pada Salatiga.

Walaupun sudah memilih tak mudah rasanya hati ini ikhlas, ibaratnya raga dsini tapi pikiran mbolang kemana-mana. Saat perjalanan itu pikiranku selalu membayangkan betapa asiknya teman-teman yang sedang prepare mendaki,pasti disana menyenangkan bisa melihat sunrise, bisa menghirup udara di gunung dan masih banyak lagi pikiran-pikiran yang berkecamuk. Yah maklum sich karena aku suka dengan gunung hehehe jatuh cinta

Eh ternyata pikiran jenuhku membayangkan gunung berhenti seketika saat mulai memasuki kota Salatiga. Kota ini berbatasan dengan kabupaten Semarang dan Surakarta. Terletak di lereng timur Gunung Merbabu maka tak heran kalau udaranya sejuk dan jalanannya pun naik turun dan berkelok-kelok. Itulah sebabnya kota itu dapat menarik perhatianku sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan ini dengan menikmati detail dari kota itu. Jadi pikiran dan raga bisa jalan sejalur ga mbolang kemana-mana 

Di Salatiga kami bertandang ke School of Life Lebah Putih yaitu sekolah yang mengedepankan system pembelajaran berdasarkan inquiry. System ini di wujudkan agar anak terbiasa untuk mengembangkan rasa ingin tahu mereka sehingga bisa muncul kekreatifan anak dan kemandiriannya. Sekolah tersebut hampir tak Nampak kalau ada aktifitas belajar formal seperti di sekolah2 pada umumnya. Begitu masuk kami di sambut dengan hamparan pekarangan yang nampak asri dan hijau. Pekarangan tersebut biasa di gunakan untuk bermain maupun belajar anak-anak. Permainan yang ada pun juga menggunakan bambu, kayu ataupun batu sehingga anak-anak terhindar dari karat karena besi atau kawat. 

Bangunan School of Life Lebah Putih


Saat ini Lebah Putih membuka kelas untuk TK sampai kelas 4 SD. Karena sekolah ini menggunakan system inquiry tersebut maka di dalam pembelajaran ini anak tidak selalu di beri tapi di biarkan untuk mencari tau sendiri. Semisal pelajarannya mengenai metamorphosis kupu-kupu. Anak-anak di biarkan lepas bebas di hutan kecil di samping sekolah. Di hutan tersebut mereka mencari mana yang namanya kepompong, ulat atau kupu-kupu. Sehingga mereka tidak hanya belajar berdasarkan gambar tapi melihat langsung secara nyata objek yang mereka pelajari.

Kebetulan waktu kami kesana adalah snack time. Setelah ada music petanda peringatan snack time Anak2 berhamburan keluar ke pekarangan yang hanya di alasi tikar. Aku pikir ga ada orang jualan lalu mereka mau makan snack apa atau mungkin dari pihak sekolah sudah menyediakan snack kali ya. Ternyata dugaanku salah mereka di wajibkan membawa snack sendiri dari rumah dan tidak boleh berbahan coklat. Itu mereka wajibkan supaya orang tua mereka juga peduli dengan gizi anak-anaknya dan kenapa tidak boleh coklat karena coklat bisa memberi dampak yang buruk bagi anak-anak missal gigi berlubang ataupun ada yang tidak tawar makan coklat maka lebih baik semua anak dilarang membawa coklat.

Setelah snack time tanpa ada perintah dari kakak pendamping anak-anak langsung pergi ke kelas untuk mengambil sikat gigi beserta odol dan menyikat gigi mereka di pancuran air yang di desain sangat unik yaitu berbentuk pohon bercabang2 yang juga di gunakan untuk tempat wudhu. Ketika itu ada anak yang malas menyikat gigi lalu kakak pendamping menyemangati anak tsb dengan sebuah lagu untuk menyikat gigi, sepenggal lagunya seperti ini “ brush up…brush down…” ternyata dari menyikat gigi sekolah tersebut menggunakan nyanyian yang mudah di ingat oleh anak-anak.Tak hanya menyikat gigi,menghitung pun mereka punya nyanyian sendirian sehingga anak-anak mudah untuk memahaminya serta menyenangkan jika belajar sambil bernyanyi. 

Pancuran air untuk cuci tangan,sikat gigi ataupun wudhu


Oia di sekolah Lebah Putih ini seorang guru tidk di panggil Pak atau Bu melainkan “Kak” dan hal memberi salam, anak ga hanya mencium tangan kakak pendampingnya tapi kakak pendamping juga menempelkan tangan anak ke pipi mereka. Banyak pro kontra dari orang tua murid karena di anggap tidak sopan tetapi sekolah ini punya alasan menerapkan hal ini yaitu supaya hubungan antara pengajar dan anak menjadi dekat seperti sahabat sehingga dalam proses belajar mengajar anak bisa semakin nyaman. Karena memang tugas pengajar sebenarnya adalah untuk mendampingi anak-anak belajar bukan untuk mendikte atau malah di takuti sehingga anak-anak bisa kreatif, mandiri dan dapat mengeksplore rasa ingin tahunya.

Setelah belajar dan memahami system belajar di School of Life lebah Putih kami beranjak ke Sekolah Alam Qoriyah Toyibah. Letaknya di Desa Kalibening Kecamatan Tingkir Kabupaten Salatiga Jawa Tengah. Kurang lebih 3 km ke arah selatan luar kota, masih berada di lereng gunung juga. Sama dengan Lebah Putih, sekolah ini tak Nampak seperti sekolah formal yang mempunyai sederet ruang kelas , pagar dan plang nama sekolah. Yup inilah sekolah alam Qoriyah Toyibah, sebuah sekolah yang menggunakan alam sebagai sarana untuk belajar. Anak-anak di biarkan belajar di manapun sesuka hatinya. Bisa di sawah, halaman ataupun ruangan. Qoriyah Toyibah di ambil dari bahasa arab yang artinya desa yang berdikari. Jadi sekolah ini pun juga ga lepas dari dukungan masyarakat sekitar. Para siswa di biasakan untuk memahami dan membantu memecahkan masalah dari para warga.

Sekolah ini unik,karena tidak menggunakan kurikulum seperti sekolah2 formal. Siswa di bebaskan membuat kurikulum sendiri sesuai dengan target yang mereka inginkan. Misalnya siswa tersebut ingin belajar menulis maka ia membuat rencana belajar atau kurikulum minggu pertama menulis bab pembuka atau siswa lain misal ingin membuat buletin maka dia membuat rancangan untuk minggu pertama membaca, cari sumber, menulis dll. Jadi intinya kurikulum tiap2 siswa berbeda satu dengan yang lain sesuai dengan yang mereka butuhkan. Karena kebebasan memilih itulah siswa bisa lebih focus dalam mencari tau ilmu, minat atau bakat yang mereka pilih. Lagi-lagi peranan pengajar di sekolah ini bukanlah semata-mata mengajar tapi mendampingi. Dari ketekunan dan kebebasan yang di berikan, siswa menjadi senang dan nyaman dalam belajar tanpa paksaan. Dan hasilnya sangat membanggakan mereka dapat memproduksi buku, lukisan ataupun film sendiri.

Setelah belajar dari Sekolah Qoriyah Toyibah,jika siswa ingin melanjutkan ke ke jenjang berikutnya dapat mengikuti ujian keseteraan atau kejar paket. Hasil ujiannya pun juga memuaskan, beberapa siswa ada yang melanjutkan ke fakultas kedokteran dan fakultas2 yang lain.

Malam itu ketika kami berada di Qoriyah Toyibah para siswa sedang memamerkan hasil karya mereka di café Merah Putih. Sungguh luar biasa hasil karya mereka, ada lukisan-lukisan yang sengaja di tata rapi oleh pihak café di dinding tembok cafe, buku karya original dari mereka dan tak kalah seru dan menghibur para pengunjung café yaitu lantunan lagu yang mereka nyanyikan. Lagu-lagu yang di nyanyikan beberapa ada yang cipta’an mereka sendiri lho… bayangkan saja di usia mereka yang masih belasan taun sudah bisa membuat hasil karya buku, lagu, lukisan dan lain-lain. Bagaimana denganmu??apa yang sudah kalian hasilkan??


Hmmm… perjalanan ke Salatiga ini bisa di bilang dolan sambil cari ilmu nich… dari 2 sekolah yang kami kunjungi benar-benar membuka wawasanku bahwa belajar itu ga perlu kaku seperti sekolah formal umumnya. Di sekolah formal angka atau nilai menjadi patokan anak itu pintar apa ga tanpa melihat apa yang menjadi kebutuhan anak itu sendiri. Kerap melihat para orang tua memforsir anak dengan berjibun kegiatan les di luar sekolah, para guru yang memberikan PR banyak, semua itu justru akan membuat anak tertekan dan kehilangan masa kecil mereka. Coba bayangkan saja untuk anak kelas 4 ke atas pulang sekolah pukul 1 nanti di lanjutkan les pukul 3 sampai pukul 5 (ini contoh kalau yg di ikuti 1 les aja kalau lebih dari 1???) sampai di rumah masih harus mengerjakan PR dari sekolah. Kapan bisa melakukan hal yang di sukai anak itu sendiri. Andai saja sekolah formal dapat mencontoh sekolah-sekolah alternative ya…..






Selasa, 24 September 2013

Si Hijau Toska yang Memukau



Akhir minggu adalah saat yang tepat untuk ajang balas dendam setelah berhari-hari bergelut dengan pekerjaan kantor yang sangat menyita waktu, polusi dan kemacetan kota Surabaya yang membuat hari-hari sangat melelahkan. Nah,kali ini kami kami memilih destinasi melepas penat ke Kawah Ijen. Perjalanan menuju Kawah Ijen bisa ditempuh melalui jalur Banyuwangi atau Bondowoso. Kebetulan posisi kami sejak kemarin berada di rumah teman di Jember maka lebih mudah dan dekat lewat jalur Bondowoso. Kurang lebih sekitar 3 jam perjalanan menggunakan mobil pribadi menuju ke Paltuding (pintu masuk pendakian).

Sesampainya di Paltuding kami sempat menengadah ke atas ke arah Gunung Ijen yang akan kami daki,hmm...tinggi nian, terbesit dalam pikiran sanggup ga ya mencapai puncak? Awal mula pendakian memang terasa seperti jalan kaki biasa dan ringan karena jalan yang kami lalui datar. Lama-lama kami menemui beberapa kali tanjakan dengan kemiringan sekitar 25-35 derajat di tambah dengan medan yang berkerikil sehingga untuk jalan pun agak susah, nafas kami terasa berat,dan jantung berdegup kencang. Tiap jalan 100 meter kami kewalahan dan berhenti sejenak untuk minum maklum hari-hari sebelum pendakian tak ada latihan fisik sama sekali. Jadi saran untuk teman-teman yang akan mendaki Kawah Ijen sebaiknya latihan jogging itu penting demi kelancaran pendakian dan ketika istirahat jangan banyak minum air karena akan membuat perut mual.

Selama pendakian kami tak henti-hentinya disuguhi pemandangan yang luar biasa menyejukkan mata,di kanan jalan terlihat beberapa gunung dan pemandangan kota sekitar yang nampak dari atas indah sekali. Saat pendakian kami juga berpapasan dengan wisatawan lokal maupun asing yang selalu memberi senyuman dan menyemangati kami supaya tetap semangat melanjutkan perjalanan sampai puncak. Selain berpapasan dengan wisatawan kami juga berpapasan dengan para pengangkut belerang. Pengangkut belerang tersebut memikul belerang dengan berat sekitar 70-100 kg dan di hargai sekitar Rp 600- Rp 700 per kilogramnya serta mereka hanya mampu memikul 1-2kali sehari. Bisa dibayangkan dengan medan yang berat serta pikulan yang tak ringan mereka mengais rejeki untuk keluarga mereka. Sungguh sangat bersyukur dan menginspirasi kami agar tak mudah mengeluh dengan pekerjaan dan rejeki yang sudah kami peroleh setiap hari.

Sampailah kami di pos timbangan,setelah menempuh kira-kira 2km mendaki. Pos tersebut adalah tempat para pengangkut belerang menimbang hasil pikulan mereka, disamping itu pos tersebut juga menjual makanan dan minuman ringan. Sehingga kami bisa beristirahat sejenak,mengatur nafas, meluruskan kaki dan sedikit makan minum sebelum melanjutkan pendakian.


Setelah memulihkan kondisi, kami melanjutkan pendakian yang kurang sepertiga perjalanan. Dan kurang lebih 1 km dari pos timbangan, bibir Kawah Ijen mulailah tampak. Dari sisa-sisa tenaga yang kami punya, kami melanjutkan perjalanan yang sudah mulai datar dan benar-benar tak sabar ingin segera melihat Kawah Ijen yang kata orang menakjubkan itu. Dan wow akhirnya kami pun sampai di Kawah Ijen yang berwarna hijau toska itu. Sungguh menakjubkan pemandangan di puncak Kawah Ijen walaupun saat itu kabut menyelimuti si hijau toska tersebut. Maklum sampai di kawah, jam tangan menunjukkan pukul 1 siang. Seharusnya waktu yang tepat untuk mengunjungi Kawah Ijen itu sekitar pukul 21.00 sudah mulai mendaki sehingga pukul 01.00 dini hari bisa menjumpai blue fire yang muncul dari kawah sampai menjelang sunrise yang ga kalah indah kata warga setempat. Eitss tunggu dulu ternyata kami masih beruntung lho walaupun ga dapat menjumpai blue fire ataupun sunrise. Sekitar 15 menit kami disekitar kawah sambil menikmati pemandangan,angin berhembus dan mengahalau kabut yang menutupi 'si hijau toska'. Sorak sorai riang langsung keluar dari mulut kami begitu 'si hijau toska' nampak. Rasa capek langsung hilang begitu melihat pemandangan yang benar-benar menakjubkan ini.

Perjalanan yang begiitu mengesankan. Berjalan bersama kawan dan menikmati hasil ciptaanNya yang begitu memukau. Semoga perjalanan ini juga selalu menginspirasi kami agar selalu menjaga kelestarian alam dan selalu bersyukur dengan segala yang telah diberikanNya dengan bercermin pada pengangkut belerang yang tetap semangat dan selalu tersenyum walaupun beban yang mereka pikul tak ringan.

Bantuan Sederhanamu Membuat Aku Tertegun

Seusai acara memperingati HUT sebuah sanggar di Surabaya saya dan beberapa rekan mulai merapikan ruangan,membuang sampah dan kegiatan lain untuk mengembalikan ruangan tersebut seperti semula. Ketika aku membereskan air mineral cup yang masih utuh ke dalam kardus-kardus kosong, tiba-tiba dari belakang ada anak kecil yang turut membantuku. Padahal teman sebayanya sebagian sudah pulang kerumah dan banyak pula yang bermain-main di luar halaman gedung. Yang ada di pikiranku ach mungkin anak ini menginginkan air mineral untuk di bawa pulang atau bisa jadi dia ingin kardus kosongnya untuk di kumpulkan (karena mereka adalah anak-anak pinggiran yang bagi mereka kardus sangat berarti jika mereka kumpulkan). Setelah selesai merapikan aku menawarkan air mineral atau kardus kepadanya tapi dia menggelengkan kepalanya lalu beranjak keluar. Aku hanya tertegun diam dan melihat anak itu keluar sampai hilang dari pandangan mataku. Ternyata aku salah tafsir dia benar-benar membantuku tanpa menginginkan imbalan apapun.

Jarang bahkan sangat sulit di temui orang membantu tanpa pamrih di jaman sekarang ini. Kadang kita meminta bantuan ke orang lain susah sekali kalau ga gitu mereka mau bantu asalkan atau ada syarat tertentu. Atau bisa jadi orang pura-pura ga tau dengan masalah atau penderitaan orang lain. Masa bodoh dengan penderitaan atau kesusahan orang lain, “masalahku aja belum kelar ngapain bantu orang lain”. Padahal pada hakikatnya manusia diciptakan saling tolong menolong lho.. Membantu orang lain juga ga perlu harus sampai menuntaskan masalahnya,hanya dengan memberi perhatian kita atau menjadi pendengar yang baik itu juga sangat
membantu meringankan beban orang lain.