Jumat, 12 Februari 2016

The Sound of Silence (Pertapaan St.Maria Rawaseneng, Temanggung 6-8 Februari 2016)

             Diluar hujan deras, didalam taksi aku kedinginan kena paparan AC. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.25 sedangkan aku belum tiba di Jl Arjuna dimana Bus Safari Dharma Raya (OBL) berhenti menjemput penumpang. 20.30 harusnya sudah kumpul semua dan pukul 21.00 bus tersebut langsung meluncur ke Jawa Tengah.

       Solo trip. Pengalaman pertamaku berpergian sendirian. Sudah lama aku mendambakan pergi ke Pertapaan St.Maria Rawaseneng, Temanggung. Sudah berkali-kali juga mengajak teman tapi susah ga pas jadwalnya. Akhirnya nekat pergi sendiri. Waktunya juga pas untuk menyepi, refleksi diri  menyongsong HUT dan memasuki pra paskah :D.

            2 minggu sebelumnya aku sudah booking tempat di Rawaseneng. Dan meminta arahan dari Sby naik apa. Oleh Pak Yosef (yang mengurusi kamar tamu) disuruh naik bus Safari Dharma Raya (OBL) turun garasi dan minta diantar ke Rawaseneng.

             Berhubung Surabaya diguyur hujan deras dan beberapa tempat banjir maka banyak penumpang yang telat kumpul. Sehingga bus baru berangkat pukul 21.46. Bus OBL ini eksekutif jadi kaki bisa diselonjorkan, ada toiletnya walaupun cuma untuk buang air kecil plus ada selimutnya pula. Bus jurusan Surabaya-Temanggung ya setau saya Cuma OBL. Bisa juga kalau mau oper naik bus jurusan Surabaya-Jogjakarta setelah sampai terminal Jogja cari bus arah Magelang, dari terminal Magelang naik bus arah Temanggung.
Bus Safari Dharma Raya


      Jam setengah dua’an tiba dirumah makan daerah Rembang. Setelah itu lanjut dan tiba di Temanggung jam 7an pagi. Sewaktu di bus saya ngobrol dengan ibu sebelah saya. Dia bilang kalau turun garasi ga ada ojek maupun angkutan maka ikuti ibu itu saja naik angkot. Achh senangnya ada orang local jadi ga mungkin saya kesasar. 

           Kami turun di daerah Kowangan,Temanggung dan menunggu angkot warna kuning lewat. Lalu minta turun dipertigaan Maron. Dari situ lanjut naik angkot merah no 03 menuju Rawaseneng. Angkot Rawaseneng akan susah dijumpai jika anak sekolah libur jadi pintar-pintarlah memilih hari jika mau menggunakan angkot ini.  Angkot merah no 03 ini akan berhenti di Dam. Selanjutnya untuk naik ke Pertapaan Rawaseneng harus naik ojek. Angkot tadi sebenarnya juga menawarkan jasanya antar sampai pertapaan dengan biaya 30ribu tapi aku lebih memilih ojek supaya bisa janjian jemput ketika pulang nanti. Selain itu juga lebih murah naik ojek yang Cuma 15ribu. Kecuali aku datang dengan rombongan jelas lebih murah angkot.

       Udaranya segar. Semerbak bau cemara mulai menyelinap memasuki paru-paruku. Saatnya cuci paru-paru. Ojeknya menurunkan aku dipos satpam didepan Museum & toko souvenir Pertapaan. Semua tamu wajib lapor di pos satpam ini untuk menyampaikan tujuannya datang ke Pertapaan. Setelah mengisi buku tamu aku diminta untuk jalan kebawah, dipusat informasi kamar tamu. Dan aku bertemu dengan Pak Yosef yang susah sekali dihubungi walau hanya sekedar booking dan tanya apa bisa mendapat bimbingan rohani dari Romonya.
Museum & Toko Souvenir 


            Aku sebutkan namaku dan asalku dan ternyata namaku tidak ada dijadwalnya. Oh my God mau tidur dimana aku. Padahal jelas-jelas aku dapat balasan SMS dari Pak Yosef jika aku bisa menginap ditanggal 6 & 7 Feb 2016. Tapi untunglah masih ada kamar untukku. Karena katanya akan banyak rombongan yang akan menginap maklum liburan panjang banyak yang ingin mencari keheningan ataupun retreat.
          218 itu nomor kamarku dilantai 2. Kamarnya cukup untuk 2 orang. Ada spring bed atas dan bawah. Ada air hangat pula jadi jangan khawatir ga mandi pagi karena kedinginan.  Saat itu ibadat siang I (Tertia) sedang mulai beberapa menit. Sedangkan ibadat siang II (Sexta) dimulai pukul 12.00. karena masih ada waktu untuk mengikuti ibadat Sexta aku mandi dan merebahkan tubuh sampai ketiduran. Untung sebelumnya aku pasang alarm sehingga tidak ketinggalan Ibadat Sexta.




           Keluar kamar. Jalan sendirian itu terasa ga nyaman. Karena masih setengah jam sebelum ibadat mulai, aku melongok ruang makan oh ternyata sudah disiapkan snack dan ada 1 orang ibu sedang nyantai disitu. Aku pun mampir untuk menikmati snack.
Jadwal Ibadat


         Begitu memasuki kapel. Mataku berkeliaran kemana-mana. Pikirku melayang-layang mencari jawaban atas apa yang telah kulihat. Aneh bagiku melihat tempat duduk Para Rahib,bajunya mereka, kenapa disekat antara Rahib dan umat. Ibadat siang II Cuma sekitar 15 menit isinya membacakan Mazmur dengan nyanyian Gregorian dan ada doa & bacaan singkat. Setalah ibadat lanjut makan siang.
Suasana dalam Kapel


          Masih ada waktu sebelum ibadat siang II (Nona), maka aku jalan-jalan menuju taman doa. Sepi hening. Itu memang yang ditawarkan Pertapaan Rawaseneng, keheningan. Setelah memasuki taman doa disebelah kiri jalan aku menjumpai Patung Bunda Maria menggendong Yesus. Dikanan jalan utama taman doa ada jalan salib yang apik. Aku berjalan terus mengikuti jalan utama. Sampailah dihalaman yang luas. Ada tangga turunan yang dikanannya dipercantik dengan gemricik kolam. Disitulah aku menjumpai bapak yang menjaga kebun. Olehnya aku diberitahu kalau disitu ada air yang sudah diberkati dan banyak orang minum dan cuci muka disitu sakitnya sembuh dan doanya terkabul. Aku pun mencobanya. Segar dan sejuk ditenggorakan rasanya. Akhirnya seharian itu aku mengikuti jadwal ibadat yang sudah ada.
Air suci


Di hari pertama itu aku kenalan dengan 2 ibu dan 1 putranya sekitar usia 20an tahun yang datang dari Jakarta & Jogja sehari sebelum aku. Mereka mengusulkan supaya aku minta untuk diberi bimbingan rohani sebagai bekalku pulang nanti. Mereka datang karena ingin memperkenalkan keheningan ke putranya dan ingin semakin dekat padaNya. Atas saran ibu tadi aku bolak balik ke kantor kamar tamu dan alhasil ga ada yang bisa aku mintai tolong untuk minta bimbingan rohani. Padahal sewaktu booking aku pun juga sudah meminta tapi apa daya ta dibalas juga SMSku. FYI nomor yang kudapat dari internet itu di tlp ga diangkat di sms pun lama balasnya. Katanya itu nomor milik Frater maka dari itu jam untuk buka HP pun juga terbatas tapi ternyata nomor itu dipegang oleh Pak Yosef. Mungkin ia sibuk karena dengar-dengar ia juga kuliah di Jogja jadi riwa riwi. Oia di Rawaseneng ini Para Rahib tidak keluar dari biaranya kecuali ada umat yang membutuhkan untuk bimbingan rohani atau keperluan lain. Jadi jangan dibayangkan berada disitu bisa berbaur dengan para Rahibnya. 

Hari kedua aku mencoba ke kantor kantor kamar tamu  lagi dan bertemu dengan Pak Yatno. Pak Yatno lah yang dapat membantuku memanggil Romo. Tenang dech pikirku. Sejenak aku berdoa Rosario di dalam kapel yang belum ada pengunjungnya. Belum selesai aku berosarioan, Pak Yatno mengahampiriku memberi kabar bahwa Romo Maxi bersedia bertemu denganku pukul 08.30. Gugup. Karena aku ga tau mau ngomong apa nanti sama Romonya. Karena aku datang ke Rawaseneng tidak sedang dilanda masalah ataupun sedang galau.

Pukul 08.30 pun tiba. Aku menantinya. Diajaknya aku keruang semacam ruang tamu dengan  4 kursi dan ditengahnya meja. Masih muda. Ramah. Dan bisa memberi aku tamparan-tamparan dan PR untuk hidupku. Selain itu Romo Maxi juga bercerita sekelumit tentang Pertapaan Rawaseneng. Jika kuceritakan dalam blog ini pasti akan ribuan karakter dech. Beliau juga bilang sayang kenapa ga mulai hari pertama aku dibimbing sehingga ada prosesnya dan berakhir ke peneguhan. Sore pukul 17.00 Rm Maxi ada tugas misa diluar dan belum tahu sampai pukul berapa maka dari itu tak bisa menemuiku lagi. Oke tak apalah aku coba garap sendiri pikirku.
Rm. Maxi saat Misa Novena 


Setelah bimbingan aku mengikuti misa Novena bulanan. Kebetulan di taman doa ada novena yang diadakan tiap bulan selama sembilan bulan nah saat itu novena yang ketiga dan dipimpin oleh Romo dari Temanggung. Para Romo dari Pertapaan sebagai konselebran. Dan aku juga baru tau kalau Romo dari pertapaan itu cuma 4. Lalu lainnya siapa? yang lain Frater. Mereka memang mengabdikan diri menjadi Frater walaupun usia mereka ada yang sangat tua tapi mereka tetap frater bukan Romo.Umat yang mengikuti novena juga lumayan banyak bahkan dari luar kota pun juga ada. 

       Aku menyusuri jalan menuju kandang sapi. Disitu lebih tenang. Lebih sepi. Ada yang unik,sapi-sapi mereka beri nama santo santa agar keturunannya tetap bagus tidak tertukar ketika mengawinkannya. Kegiatan mereka selain berdoa 7x juga bekerja menghidupi kebutuhan mereka sendiri dengan berkerbun dan berternak. Awal mulanya penghasilan mereka dari berkebun kopi dan memerah sapi. Lalu terjadi krisis moneter dan mengalami kerugian sehingga mereka mencoba-coba membuat kue dari keju sebagai tambahan. Sedikit demi sedikit mereka belajar dan  banyak yang suka dengan kue keju tsb akhirnya sekarang nambah usaha membuat susu pasteurisasi. 

       Dari kandang sapi,aku berjalan terus sampai ujung ada sebuah pemakaman. Oh ini yang diceritakan Rm.Maxi ada 17 Rahib yang sudah tiada. Yup cuma 17 sejak Pertapaan ini berdiri, butuh kerahiman ilahi dan perjuangan keras hingga bisa menjaga kesetiaan mereka sampai kembali kepada Bapa. 

Setelah ibadat sore sekitar pukul 18.30 aku keluar dari kapel dan ada orang memanggilku disamping kapel.
“ Mbak Sari nanti saya bisa melanjutkan bimbingannya. Jam 19.00 ya.” kata Rm Maxi yang masih membawa tas ransel usai tugas Misa diluar memberi info padaku.
Oh ternyata Rm. Maxi bisa kembali lebih cepat dari dugaannya. Aku mulai mengingat-ingat PR yang sudah aku refleksikan disiang hari tadi. Dengan mantap aku siap untuk menemui Rm. Maxi. Beliau memberi bimbingan sekaligus peneguhan untuk bekalku kembali ke dunia nyata.

Malam sebelum tidur hatiku merasa sedih meninggalkan tempat itu. Aku sudah merasa nyaman disitu. Keheningan seolah melepaskan aku dari segala hiruk pikuk dunia. Keheningan dapat mengisi jiwa yang gersang dan raga yang mulai rapuh.

Salah kalau orang beranggapan aku menginap di Pertapaan karena ingin masuk biara. Disitu terbuka untuk umum yang merindukan keheningan agar dapat mendengarkan suara hati dan Ilahi. Banyak orang yang kesitu ga hanya orang tua tapi muda mudi juga. 

Perjalananku berkunjung ke Pertapaan seolah memberi semangat untuk dapat melanjutkan misiku didunia. Dapat mengenal siapa aku. Ada apa dengan diriku. Dan mengapa aku seperti ini. Peziarahan di dunia ini penuh liku dan pasti semua orang dapat menyelesaikan perjalanannya. Tak perlu merasa tidak sanggup karena semua sudah diperhitungkan masak-masak oleh si Empunya hidup. Selesaikan apa yang jadi tanggunganmu. Berhenti. Mutung  tak ada gunanya lanjutkan dan jangan menyerah.

Pertapaan St.Maria,Rawaseneng,Temanggung suatu saat aku kan kembali :)


Rincian biaya:

   1. Tiket bus Safari Dharma Raya (OBL) Rp 135.000 x 2 = Rp 270.000
   2. Angkot kuning dari Kowangan Rp 3.000
   3. Angkot merah no.3 dari pertigaan Maron menuju Rawaseneng Rp 5.000
   4. Ojek dari Dam ke Pertapaan Rp 15.000
   5. Penginapan di Rawaseneng per malam Rp 150.000
   6. Ojek dari Rawaseneng ke garasi OBL Rp 35.000

Rute dari Surabaya menuju Pertapaan St. Maria Rawaseneng, Temanggung:

Rute I:

Berangkat    ==> Bus OBL Garasi di jl Arjuna / terminal Bungurasih – Temanggung  di garasi OBL (minta antar ke Rawaseneng dengan kasi tip sukarela)
Pulang          ==> Ojek dari Rawaseneng ke garasi bus OBL di jalan Dewi Sartika (Ojeknya panggil dulu via phone)

Rute II:

Berangkat     ==> Bus OBL garasi di Jl. Arjuna / Terminal Bungurasih – Temanggung turun di Kowangan naik angkot kuning – Turun pertigaan Maron naik angkot Merah no.03 arah Rawaseneng – turun di Dam oper ojek.
Pulang      ==> Ojek dari Rawaseneng ke Terminal Maron – naik bus pintu 2 arah ke Magelang – turun terminal Magelang oper bus kearah Jogja – turun terminal Giwangan- dari Terminal Giwangan naik bus arah Surabaya (bisa Eka, Mira, Sugeng Rahayu dll)

Bus Safari Dharma Raya
Surabaya
Jl. Raya Arjuna No. 35 Telp. 5461667 , 5481922 Fax. 5349490
Loket Terminal Bungur Asih. Telp. 8532348, 8543325
Dari Arjuna berangkat pukul 21.00, dari Bungurasih dijemput pukul 19.00
     Temanggung     
           Jl. Diponegoro No. 25     (0293) 491195 è Tiket aja
           Jl. Dewi Sartika no.39 (0293) 492828 è Kumpul
Kumpul pukul 16.30 berangkat pukul 17.00
Beli tiket via Tlp bayar saat berangkat asal positif, batal harus info
     Yogyakarta         
           Jl. P. Mangkubumi No. 70 (0274) 581880                (0274) 522234   
Jl. Raya Janti No. 25 Kompleks Pasar Angkasa      (0274) 7416708                 
Terminal Jombor Yogyakarta       (0274) 868838   
Berangkat dari Mangkubumi jam 19.00, dari Janti 19.30


Info nomor Telephon:

1. Kamar tamu Rawaseneng (Pak Yosef) : 0813-2888-2028
     2. Toko Souvenir (Bu Nanik): 0812-8961-6962
    Bisa pesan kastengel, roti, kopi buatan Rahib Rawaseneng. Dikirim via paket dari bus           OBL.
3. Ojek sekitar Rawaseneng (Pak Yun) : 0821-3734-2156
4. Ojek sekitar Jogja : 0853-3046-1614

Sebelum pulang dibawah patung Bunda Maria, Taman Doa

Suster pasteurisasi


Makam 17 Rahib



               


                

Kamis, 11 Februari 2016

Kasih yang Menyempurnakan (Perhentianku di SLB/G Helen Keller, Jogja 8 Feb 2016)

Terik matahari tak menyurutkan niatku tuk melangkahkan kaki di kota Gudeg. Sudah sekitar 1,5 jam’an aku duduk didalam bus dari Magelang menuju Jogja. Pengap. Panas. Maklum itu bus ekonomi tanpa AC.
“Jombor…Jombor…Terminal..” teriak kernet bus mengagetkanku.
Sontak aku langsung berkata pada pak kernetnya,
“Pelemgurih ya pak jangan lupa”
Menurut arahan dari temanku Suster Veronika, PMY, jika sudah melewati Terminal Jombor berarti sudah mendekati tempat dimana aku harus turun yaitu Pelemgurih. 

Beberapa menit kemudian bus berhenti di Pelemgurih. Mataku mulai berkeliaran mencari becak. Baru 2-3 langkah tiba-tiba ada seorang bapak meneriakiku dari dalam warung.
"Mbak..ojek?”
Aku mendekatinya dan menanyakan tarif ojek sesuai tujuanku. Setelah sepakat kami langsung meluncur mencari alamat yang aku tuju. Eh ternyata bapak ojeknya ga hafal jalan jadi kami putar-putar dan tanya ke tukang parkir. Dalam hatiku kalau tidak tau jalan kenapa ngojek pak. Berulang kali bapak tersebut meminta maaf karena tidak hafal jalan. Awalnya aku dongkol tapi itu tak lama karena teringat kalau aku pun juga susah untuk menghafal jalan.

Sesampai ditempat tujuan aku menunggu Sr.Veronika,PMY di teras Sekolah Luar Biasa (SLB). Aku baru sadar kalau yang kutuju adalah SLB beserta asramanya. Kukira Sr.Vero itu tinggalnya di sebuah susteran biasa tanpa jadi satu dengan SLB.

Suster Veronika,PMY adalah buah perkenalanku di acara Temu Kaum Muda Vinsensian (TKMV) 2 tahun yang lalu. Kebetulan aku menjadi sie keskretariatan dan menangani registrasi. Sehingga tugasku mengontak dan meminta konfirmasi dari masing-masing peserta untuk bisa atau tidaknya hadir dalam acara tersebut. Komunikasi kami tidak berhenti di acara itu. Beberapa kali kami masih komunikasi menanyakan kabar. Hingga hari itu kebetulan posisiku di Jawa Tengah sehingga mengajaknya untuk ketemuan.

Ia mengajakku masuk, memperkenalkan beberapa suster yang lain dan mempersilahkan aku untuk makan. Setelah itu kami ngobrol panjang lebar. Obrolan kami terhenti karena ada anak usia 9 tahun teriak-teriak tidak jelas ngomongnya sambil menangis.  Ternyata anak itu rewel karena sedang menstruasi. Itu adalah pengalaman pertamanya merasakan menstruasi sehingga merasa tidak nyaman tapi tidak bisa menyampaikannya dengan jelas. Ia tak bisa bicara dan mendengar dengan baik. Kata Suster ibunya berulang kali sudah di telephone untuk menengok anaknya tapi belum bisa karena sibuk.

Melihat gadis itu membuat aku penasaran dengan anak asrama yang lain. Aku pun meminta ijin untuk mengunjungi asrama SLB. Berhubung masih jamnya tidur maka baru bisa mengunjungi mereka pukul 16.00.  Sr. Vero mengajak aku untuk merebahkan diri sesaat. Lumayan bisa meluruskan punggung sambil menunggu anak-anak bangun.

Pukul 15.45 aku sudah bergegas tuk mandi dan siap bertemu dengan anak-anak. Kuturuni tangga dari lantai 3 kamar yang kuhuni sesaat. Sampai dilantai dasar ada beberapa ruang yang kulewati sampai ke asrama SLB. Dari ruang makan asrama sudah terdengar suara gaduh anak-anak. Begitu memasuki ruang sumber suara itu aku hanya berdiri diam terpaku.
“ Mbak Sari takut ya?” celetuk Sr. Vero
Iya ada rasa takut dan tidak tahu mau ngapain melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya ini. Ada rasa waspada jika tiba-tiba anak-anak itu menyerangku. Ada 10 anak dan 2 ibu-ibu pendamping yang ada di ruangan sebesar kira-kira 6m x 6m.  Aku duduk di tikar mendekati anak perempuan yang tertunduk diam sesekali ia teriak. Kulitnya putih keturunan Tionghoa. Ia memegang tanganku dan memberi isyarat yang kata Suster itu artinya kue. Mungkin dia meminta kue dariku. Lalu ibu pendamping memanggilnya menawari permen.
“ Mau permen ga?ayo berdiri diambil” Aku mengulang beberapa kali tawaran ibu itu supaya ia mau berdiri mengambil permen diruang makan.
Dia mengajakku untuk mengambil permen dengan menyeret tanganku. Tapi kata ibu itu biarkan sendirian supaya dia menghafal ruangan. Dia low vision,tidak bisa berbicara dengan jelas tapi untuk mendengar dia masih bisa walaupun harus diulang-ulang. Orang tuanya sudah membawanya berobat ke Jakarta bahkan sampai Singapore. Oh dia anak orang berada pikirku.

Di ujung ruangan itu ada anak laki-laki berdiri sambil tanganya merogoh rak buku. Ditanya pendampingnya apa mau baca, ia pun mengangguk. Si ibu itu mengambilkan beberapa lembar bagian dari majalah untuknya. Tampak wajahnya sumringah. Buku itu diremas-remas dan dipukulkan kemukanya. Sepertinya dia juga low vision jadi baca pun juga kesulitan. Memberikan beberapa lembar majalah adalah cara menghiburnya.

Ada lagi bocah laki-laki yang kesulitan berbicara mendorong-dorong rak kayu / bufet. Lalu naik-naik ke jendela mainan kipas angin. Dia gelisah karena papanya yang janji jemput jam 16.00 tak kunjung datang. Padahal dia sudah siap jauh sebelum pukul 16.00 dengan sepatu ket dan jaket merah beserta tudung kepalanya. Keren bocah itu.

Tiba-tiba ada anak laki-laki usia sekitar 5 tahunan mencium pipiku. Aku kaget dan ibu-ibu itu tertawa sambil memperingatkan anak itu kalau ga boleh cium-cium kayak gitu. Lalu ibu itu menjelaskan kalau dia suka dengan gambar. Dan bajuku ada gambar bunganya maka dari itu dia menyerangku dengan ciuman.

Tidak berhenti diserang ciuman saja. Anak gadis berusia 5 tahunan menyerangku dengan pelukan. Dia mendatangiku lalu duduk dipangkuanku dan mendekapku. Mungkin dia mencari kenyamanan. Untung aku sudah mandi sehingga tak membuat anak itu pingsan.

Berhubung keberangkatan bus yang sudah aku pesan tiketnya beberapa hari yang lalu berangkat pukul 19.00, aku keluar asrama makan dulu  bersama Sr.Vero.  Ketika hendak keluar melewati meja makan asrama ada gadis cilik yang ketika kudatang tadi hampir rewel usai bangun tidur. Ternyata dia anteng duduk dimeja makan sambil makan kacang kulit. Lucunya dia mengupas kacang tak langsung dimakan. Biji kacang yang telah dia kupas dikumpulkan dalam lepek. Menggemaskan melihatnya.

Setelah makan aku kembali ke asrama sambil berpamitan. Tapi sayang para suster sedang ada doa. Sehingga aku hanya menuliskan pesan terimakasihku dipapan tulis. Tak lupa aku berpamitan dengan ibu-ibu pendamping asrama yang sedang repot menemani anak-anak makan malam. Sambil menunggu ojek menjemputku, aku dan Sr.Vero duduk di ayunan. Ada keluarga datang menjemput. Yup mereka keluarga yang dinanti bocah laki-laki keren yang gelisah menanti  jemputan tadi. Kakak perempuannya berambut panjang dan cantik. Adik perempuannya juga cantik. Dia pun juga keren walaupun berkebutuhan khusus.

Di SLB ini para suster PMY, ibu-ibu pendamping dan para guru mendidik mereka agar mereka bisa mandiri sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena kebutuhan tiap-tiap anak penyandang ketunaan itu berbeda-beda. Mereka mendidik dengan kasih sehingga anak-anak merasa nyaman dan tidak terasing dengan kekurangan mereka.

Berbeda dengan sanggar anak jalanan / pinggiran yang biasa aku dampingi di Surabaya. Di sanggar, anak-anak kekurangan materi. Kebutuhan sandang,pangan, papan mereka tidak terpenuhi dengan baik. Di SLB ini keluarga mereka banyak dari keluarga yang berada walaupun ada juga yang kurang mampu. Orang tua mereka sanggup dan mengusahakan apa yang mereka minta dan butuhkan. Tapi ketunaan dan berkebutuhan khusus itu yang membuat mereka terbatas untuk bertindak dan mengeksplore kemampuan mereka.

Perhentianku dijogja yang hanya beberapa jam ini membuat aku makin bersyukur dengan keadaanku yang tak kurang satu apapun bisa pergi kesana kemari. Berteriak-teriak ataupun berbisik-bisik orang akan paham dengan maksudku. Sedangkan mereka untuk mengungkapkan rasa saja susah. Orang tua mereka bisa dikatakan berduit bisa mengobatkan ke Singapore dll tapi apa daya uang tak bisa menyempurnakan kondisi mereka. Hanya kasih dan ketlatenan yang membuat mereka sempurna. Itulah visi misi dari para suster PMY ini melayani yang lemah, kecil dan tersingkir.
Duo Veronika





Jumat, 29 Januari 2016

Menyibak Kehidupan Malam

Teeetttt….Jujes…Jujes…

Cahaya kereta api menyibak keremangan malam itu. Mereka yang semula duduk-duduk di pinggiran rel mengambil beberapa langkah menjauhi rel tersebut ketika kereta api melintas. Berbeda dengan yang sedang berdua-dua’an, ada yang tetap asik dengan kegiatannya ada pula yang berhenti sejenak melongok kereta yang sedang lewat.

Malam itu saya , beberapa teman sanggar dan guru-guru sekolah ternama di Jawa Tengah cangkruk’an di pinggiran rel kereta Stasiun Wonokromo. Tujuan kami datang kesitu hanya sekedar cangkruk melihat anak didik mereka yang sedang live in di warung kopi pinggiran rel tersebut.

Sepeda motor kami parkir di sebelah pos Tales lalu kami berjalan memasuki gang yang cukup untuk berjalan 1 orang saja. Pintu rumah-rumah sudah tertutup rapat karena memang sudah larut. Oh ada yang masih terbuka dan berdiri bapak2 yang sudah renta.

“Monggo pak” sapa kami ketika melewatinya.

Jalan tiba-tiba terhenti , kulihat didepan sudah tembok beton pembatas jalan. Pikirku sudah sampai. Ternyata kami antri untuk menyusup melewati tembok beton. Tembok beton tersebut adalah pembatas antara kawasan rel kereta api dengan pemukiman warga. Tembok yang paling bawah ternyata tidak dipasang dan itu dipergunakan warga untuk jalan tembus menuju kawasan rel kereta api. Jadi kami harus antri menyusup lubang tembok yang hanya setinggi kira-kira setengah meter itu.

“Iki teko sanggar” celetuk orang yang tak nampak wajahnya karena gelap saat kami semua berhasil menyusup.

Mungkin mereka mengenali beberapa wajah kami. Jalan bergerombol, itu kesalahan kami sehingga menarik perhatian orang. Di sekitar pinggiran rel itu ada hamparan rumput atau semacam lapangan yang cukup luas. Ada beberapa warung kopi berjajar disitu. Di sepanjang tembok beton cahayanya remang-remang nyaris gelap dan banyak orang berpasang-pasangan. Ada yang bikin saya geleng-geleng, ada semacam tenda darurat yang didirikan. Yup mirip tenda daruratnya korban pengungsian banjir. Tapi yang ini terbuat dari sarung bali yang diikat ujung-ujungnya dengan raffia/tali,alasnya kemungkinan dari tikar. Kami berhenti disalah satu warung. Warung yang kami singgahi jaraknya sekitar 300meter dari Stasiun Wonokromo. Wanita-wanita yang menjajakan diri disitu usianya ga semua belia. Banyak yang sudah ibu-ibu. Sepertinya disitu yang penting montok dan bermodal hotpants alias celana gemes jadi dech.


Beberapa kali aku menggunakan jasa kereta api dan melewati stasiun Wonokromo tak pernah terbayang jika ada sudut kelam disitu. Sambil menunggu tempat tujuan tiba, kita yang diatas kereta api pasti ada yang melamun menyesalkan nasib, membaca, bercanda terbahak-bahak bahkan ada yang pulas menikmati tidur bukan. Sedangkan di sudut itu ada yang datang dan pergi sesuka hati, ada yang menanti pelanggan menggunakan jasanya, ada nenek tua yang menanti pesanan kopi hangat, ada bapak-bapak yang membersihkan tempat agar layak digunakan, dan ada masih banyak lagi kegiatan mereka diremangnya cahaya malam. Ibu-ibu jam segitu yang seharusnya tidur mendampingi anak-anak mereka tetapi mereka bekerja menjajakan dirinya.  Banyak alasan mereka menjajakan diri jadi jangan selalu menyudutkan mereka. Biaya pendidikan tinggi, susu bayi makin tak terbeli, ketrampilan terbatas, lapangan pekerjaan sempit. Hmmm akankah aktifitas keremangan sudut kota tersebut berhenti??? 

Rabu, 20 Januari 2016

Penghuni Lain di Kepala

“ Ya ampuuun jaman kayak gini masih kutuan?”

Komentar mamaku ketika kuminta untuk metani alias cari kutu yang ada dirambutku.
Memang semua serba modern tapi masih ketemu yang namanya kutu sepertinya terdengar lucu, menjijikkan bahkan mungkin yang dengar akan siap-siap jaga jarak dari si penampung kutu itu.
        Semua itu berawal dari gatal-gatal di rambutku. Kukira itu adalah ketombe makanya saya coba ganti shampoo koq ternyata masih terasa gatal tapi ketombenya ga ada. Katanya sichh gatal karena beruban. Hmmmm masa saya udah beruban? Kecurigaanku mengarah kepada kutu. Karena selama mendampingi anak-anak jalanan / pinggiran di sanggar, saya melihat hampir semua anak berkutu. Atas beberapa saran untuk mengatasi kutu saya mulai mencoba membasmi si imut yang bikin garuk-garuk kepala ini.

  • Keramas dengan mengusapkan kaos putih dikepala. Kaos putih polos atau semacam kaos dalam diusap/digosokkan ke kepala saat rambut penuh dengan shampoo. Nah disitulah kutu akan menempel di kaos. Pertama kali aku mecobanya 1 ekor dapat dieksekusi. Lalu aku terus mencari sampai total ada 6 ekor.
  • Menggunakan cem-ceman minyak kayu putih yang dicampur jeruk nipis. Minyak kayu putih dicampur jeruk nipis lalu dioleskan ke kulit kepala dan dibiarkan minimal 2 jam. Setelah 2 jam rambut dikeramasi dengan menggosokkan kaos putih dan hasilnya 1 ekor masih ikutan nempel dikaos.
  • Dipetani alias minta tolong orang lain untuk mencari kutu dirambut. Sewaktu dipetani tak ditemukan kutu yang ada cuma lisa/telur  yang sudah kosong sejumlah 7.
       3 saran tersebut aku coba dan hasilnya gatal berkurang dan ketika dipetani kutu sudah tak dapat ditemukan. Dari gatal-gatal sampai kutu bersih saya hanya membutuhkan waktu seminggu.  Menurut sumber dari internet, kutu betina dapat menghasilkan 8 telur setiap harinya dan di hari ke 8/10 akan menetas. Nah bisa dibayangkan kan kalau kita ga segera membasmi akan berapa puluh ekor kutu yang menghuni rambut. 
              
Penampakan kutu pertama yang berhasil dieksekusi dengan usapan kaos putih
  

       Mungkin itu salah satu resiko mendampingi anak sanggar. Tapi bukan berarti berhenti mendampingi mereka.  Ada cara untuk tetap mendampingi tanpa tertular kutu rambut. Berikut tips supaya meminimalisir  tertular kutu rambut:

  • Ikatlah rambut terutama yang berambut panjang supaya tidak berkibar-kibar rambutnya. Karena kutu mudah sekali loncat ke rambut-rambut.
  • Jika anak-anak meminjam sisirmu, cek dan bersihkan sisir tersebut setelah mereka pakai sebelum menyisir rambutmu.
  • Jika rambut terasa gatal segeralah keramas dengan mengusap rambut menggunakan kaos putih. Hal itu bisa sebagai survei apa rambut kita sudah berpenghuni atau gatal kena ketombe :D
Selain memperisai diri supaya tidak tertular, saya masih belum menemukan cara bagaimana memberantas kutu di rambut anak-anak. Kasihan jika melihat mereka garuk-garuk kepala terus ketika bermain. Tapi ada juga anak yang punya banyak kutu tapi tidak merasakan gatal mungkin karena sudah kebal.  Jika diberi pengarahan supaya keramas teratur dan dipetani mereka pasti akan tertular lagi karena teman-teman mereka di sekolah, ditempat bermain juga banyak yang kena kutu rambut.

Rabu, 29 Juli 2015

Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru


“Seneng banget mbak…ini di suruh buat mos mbak”
Balasan pesan yang kutunggu-tunggu sedari pagi akhirnya datang juga. Aku membaca pesan tersebut dengan senyum merekah. Ada secercah harapan untuk ia kembali semangat bersekolah batinku. Itu adalah balasan dari Firda anak dampingan sanggar yang memasuki ajaran baru di bangku SMP. 

Mungkin hal biasa melihat anak memasuki ajaran baru tapi bagiku kasus Firda beda. Sehari sebelumnya Firda yang oleh Jon & Andi selaku kakak sanggar harus menjemput dia di acara nikahan saudaranya di Jombang. Karena kalau ga dijemput dia akan balik Surabaya hari Senin bersama keluarganya. Padahal Senin adalah hari pertama dia harus masuk sekolah apalagi banyak persyaratan sekolah yang belum ia tuntaskan. 

Seperti beberapa waktu lalu sebelum UNAS, si Firda bolos sudah lumayan lama dan dia takut kembali ke sekolah karena ia kira sudah dikeluarkan. Akhirnya beberapa kakak sanggar mendatangi sekolahannya untuk menanyakan statusnya. Puji Tuhan ternyata Firda masih diberi kesempatan untuk kembali bersekolah dan mengikuti UNAS. 

Firda bungsu dari 2 bersaudara. Ia tinggal dengan neneknya yang berprofesi sebagai tukang kebun disebuah RS. Orang tuanya sudah bercerai. Sang bapak jarang sekali memperhatikan kebutuhan Firda sedangkan sang Ibu yang berprofesi membantu memasak disebuah warung juga kesusahan untuk membiayai sekolahnya. Jadi bisa dikatakan Firda kehilangan perhatian dari kedua orang tuanya. Apalagi lingkungan tempat Firda tinggal, banyak teman-temannya putus sekolah. Sehingga membuat firda kurang bersemangat dalam sekolah. 

Dengan kondisi yang seperti itulah ga hanya sekedar materi yang dibutuhkan tetapi kami harus memompa semangatnya agar tetap niat bersekolah. Tadi pagi Mas Heru, kakak sanggar info saya apa bisa kontak dengan Firda karena dari tadi pagi ga bisa dihubungi. Mas Heru mencoba membangunkan Firda dan mengantarnya ke sekolah. Karena ga bisa dihubungi itulah ia langsung beranjak kerumah Firda, bayanganku dia masih tidur karena terbiasa bangun siang selama sebulan liburan. Ternyata kata orang sekitar rumahnya Firda sudah berangkat sekolah. Setelah di cek ke Sekolah ahhh syukurlah dia bisa lebih pagi dari kakak2 sanggar untuk tiba disekolah. 

Semoga niatnya bersekolah tak padam lagi dan semoga semangat kami para pendamping terus berpijar agar tetap setia memberi cahaya kepada Firda dan anak-anak lain yang kurang mendapat perhatian.

Rabu, 25 Februari 2015

Ujianmu nak...

Sore itu cerah, kuparkir motorku disamping sanggar dan kulihat banyak anak sudah berkumpul. Di teras sanggar beberapa anak usia TK-SD kelas 3 bergerombol dengan salah satu pendamping. Aku masuk dan ikut nimbrung dengan anak yang lebih dewasa sekitar SD kelas 4 keatas. Ada yang asik makan rambutan dan sepasang sedang bermain catur. Aku mengikuti jalannya permainan catur itu sampai seorang bocah curhat kepadaku masalah sekolahnya aku tak menyadarinya. Si bocah itu menepuk pahaku, “ mbak rungokno aku ta”.  Aku pun terkejut. Dalam hati aku tadi melamun atau asik mengikuti permainan catur ya. Hari-hari ini otakku serasa ruwet full sampai2 bocah itu curhat soal sekolahnya  aku hampir tak bisa memberinya solusi,motivasi ataupun nasehat. Yang bisa kulakukan hanya mendengarkan dengan seksama. Walaupun hanya didengar, dari raut wajahnya Nampak sumringah lega bisa ngeluarin uneg-unegnya.

Kegiatan pun beralih ke latihan persiapan pentas. Sebagian anak yang telah dipilih untuk tampil dipentas langsung mengambil posisi masing-masing. Sedangkan aku beranjak ke teras untuk mendampingi anak-anak yang sedang menggambar. Sesekali aku memperhatikan anak-anak yang sedang latihan. Celometan dan tingkah mereka bebas banget dan kocak,membuat orang yang nonton senyum2 kadang tertawa geli. Sampai-sampai pendamping yang sedang melatih kewalahan untuk mengajak konsentrasi. Yah tapi itulah anak-anak.

Entah awalnya bagaimana tiba-tiba kami pendamping sedang membahas salah satu anak. Anak itu lincah dan menyenangkan. Tapi ternyata dibalik semua itu ada kisah yang memilukan. Ia habis dihajar oleh ayahnya lalu ketempat ibunya berharap mendapat perlindungan ternyata malah dihajar pula. Akhirnya ia kabur dari rumah dan diberi tumpangan oleh pemilik warnet. Seusai anak-anak pulang dan sanggar mulai sepi tiba-tiba mendengar kabar bahwa ibu anak tersebut meninggal. Hmm barusan aja dibahas kasusnya eh sekarang nambah lagi ujian anak itu.

Kami para pendamping menyusul kerumah duka. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Air mataku pun hampir tumpah. Beberapa menit yang lalu anak itu tertawa terbahak-bahak dengan teman disanggar, pulang-pulang mendengar kabar ibunya telah tiada. Tak sempat ia berdamai dengan ibunya sekarang melihat tubuh terbujur kaku tepat 8 hari lagi dia genap berusia 11 tahun.


Jika aku melihat dengan kacamataku, begitu banyak ujian yang ia hadapi diusianya yang sangat dini. Hidup pisah dari orang tua, sekarang malah kehilangan salah satu ortunya. Dulu ketika usiaku sebelas tahun adalah masa-masa yang menyenangkan. Masa dimana aku dapat bermanja dan bersenda gurau dengan ortuku. Dengan menoleh ke kehidupan anak itu membuatku bersyukur atas ujianku sekarang. Berhari-hari merenungi ujian ga ada gunanya, memang sudah saatnya beranjak dan menjalaninya. Semoga anak itu selalu dapat bertahan di tiap lika liku kehidupan dan dapat mengejar mimpi-mimpinya.

Rabu, 01 Oktober 2014

Saat Dilanda Kemacetan

Music by Enya terdengar dari headset yang kupasang ditelinga kiri mengiringi perjalananku pulang kantor menuju rumah dihari ke 19 bulan September 2014. Jalanan rame dan macet tidak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin karena jumat banyak yang ingin segera pulang dan menikmati weekend. Sesampainya di jalan sekitar Adityawarman tepatnya sebelah Toserba, jalanan mulai macet cenderung berhenti kadang sedikit-sedikit merambat. Melihat antrean panjang kendaraan membuat aku makin lesu. Apalagi dengar alasan macet karena jalan ditutup untuk persiapan acara peringatan 5 Oktober. Haduhhhh acara masih 2 minggu lebih kenapa menutup jalan mulai sekarang.

Alunan music pun tak dapat mengademkan suasana hati. Sampai mataku tertuju pada anak perempuan usia sekitar 6 taunan. Ia memakai atasan pink dan celana panjang krem yang bagian pantatnya kotor mungkin akibat duduk disembarang tempat yang mudah meninggalkan noda. Tangan kirinya menggenggam plastik es yang telah habis dan menyisakan es batunya saja. Sesekali ia sedot berharap es batu tersebut mencair sedikit demi sedikit. Sedangkan tangan kanannya mendorong gerobak sampah yang ditarik oleh bapaknya. Sesekali tangan kirinya pun juga turut mendorong gerobak. Lalu selang beberapa menit datanglah perempuan mendekatkan motornya pada gerobak sampah. Ia mengulurkan tangan yang menggengam sejumlah uang dan diberikannya ke anak kecil tersebut. Setelah itu segera berlalu mencari celah agar motornya cepat melaju dari kerumunan macet. Anak itu berjalan menyusul bapaknya yang ada dimuka gerobak,
“Pak iki lho” sambil tangan kananya memberikan uang kepada bapaknya.
“ Lho teko sopo?”
“Teko mbak iku.” Kepalanya memberi isyarat menunjuk pada permpuan yang memberinya tadi.
Aku sudah berada didepan mereka dan mencuri-curi pandang penasaran sambil melihat anak tersebut dari spion motor. Diusianya yang masih dini harusnya ia bermain dan bersenang-senang bersama teman-temannya tapi malah membantu bapaknya mendorong gerobak sampah. Setelah diberi uang tidak disimpan dan digunakan untuk kesenangannya malah diberikan semua kepada bapaknya. Seolah ia paham betul akan kebutuhan orang tuanya sehingga rela memberikan uang yang diperoleh untuk bapaknya supaya dapat digunakan menyambung kebutuhan hidup. Berbanding terbalik dengan anak-anak yang sempat aku beri les privat dulu ketika masih kuliah. Tiap aku datang memberi les, pembukanya tak jarang mereka menunjukkan mainan baru dari orangtuanya. Belum cukup mainan-mainan itu seusai les pun kadang ada yang menagih janji orang tuanya untuk membelikan es krim,mainan atau pergi ke mall jika mereka rajin dan menurut saat les.

Tak terasa akhirnya motorku pun lolos dari kemacetan dan dapat melanjutkan perjalanan dengan lancar. Walaupun masih terngiang dengan potret kehidupan anak perempuan pendorong gerobak sampah yang aku lihat tadi. Ada pertanyaan yang terbesit dibatinku, Ia membantu orangtuanya pilihan dia sendiri atau dipaksa oleh orang tuanya ya. Meskipun dipaksa dari raut wajahnya tak menyiratkan wajah yang grundel karena terpaksa. Padahal ia dalam keadaan berat ketika mendorong gerobak,belum lagi suasana yang bikin gerah wajahnya tetap adem. Berbeda dengan wajah kami yang kusut, lesu, ga sabaran saat dilanda macet. Wajahnya yang adem mengajarkanku untuk tetap tenang dan menikmati ritme kehidupan meski kadang tak selalu mudah, berbatu terjal dan penuh liku.