Rabu, 25 Februari 2015

Ujianmu nak...

Sore itu cerah, kuparkir motorku disamping sanggar dan kulihat banyak anak sudah berkumpul. Di teras sanggar beberapa anak usia TK-SD kelas 3 bergerombol dengan salah satu pendamping. Aku masuk dan ikut nimbrung dengan anak yang lebih dewasa sekitar SD kelas 4 keatas. Ada yang asik makan rambutan dan sepasang sedang bermain catur. Aku mengikuti jalannya permainan catur itu sampai seorang bocah curhat kepadaku masalah sekolahnya aku tak menyadarinya. Si bocah itu menepuk pahaku, “ mbak rungokno aku ta”.  Aku pun terkejut. Dalam hati aku tadi melamun atau asik mengikuti permainan catur ya. Hari-hari ini otakku serasa ruwet full sampai2 bocah itu curhat soal sekolahnya  aku hampir tak bisa memberinya solusi,motivasi ataupun nasehat. Yang bisa kulakukan hanya mendengarkan dengan seksama. Walaupun hanya didengar, dari raut wajahnya Nampak sumringah lega bisa ngeluarin uneg-unegnya.

Kegiatan pun beralih ke latihan persiapan pentas. Sebagian anak yang telah dipilih untuk tampil dipentas langsung mengambil posisi masing-masing. Sedangkan aku beranjak ke teras untuk mendampingi anak-anak yang sedang menggambar. Sesekali aku memperhatikan anak-anak yang sedang latihan. Celometan dan tingkah mereka bebas banget dan kocak,membuat orang yang nonton senyum2 kadang tertawa geli. Sampai-sampai pendamping yang sedang melatih kewalahan untuk mengajak konsentrasi. Yah tapi itulah anak-anak.

Entah awalnya bagaimana tiba-tiba kami pendamping sedang membahas salah satu anak. Anak itu lincah dan menyenangkan. Tapi ternyata dibalik semua itu ada kisah yang memilukan. Ia habis dihajar oleh ayahnya lalu ketempat ibunya berharap mendapat perlindungan ternyata malah dihajar pula. Akhirnya ia kabur dari rumah dan diberi tumpangan oleh pemilik warnet. Seusai anak-anak pulang dan sanggar mulai sepi tiba-tiba mendengar kabar bahwa ibu anak tersebut meninggal. Hmm barusan aja dibahas kasusnya eh sekarang nambah lagi ujian anak itu.

Kami para pendamping menyusul kerumah duka. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Air mataku pun hampir tumpah. Beberapa menit yang lalu anak itu tertawa terbahak-bahak dengan teman disanggar, pulang-pulang mendengar kabar ibunya telah tiada. Tak sempat ia berdamai dengan ibunya sekarang melihat tubuh terbujur kaku tepat 8 hari lagi dia genap berusia 11 tahun.


Jika aku melihat dengan kacamataku, begitu banyak ujian yang ia hadapi diusianya yang sangat dini. Hidup pisah dari orang tua, sekarang malah kehilangan salah satu ortunya. Dulu ketika usiaku sebelas tahun adalah masa-masa yang menyenangkan. Masa dimana aku dapat bermanja dan bersenda gurau dengan ortuku. Dengan menoleh ke kehidupan anak itu membuatku bersyukur atas ujianku sekarang. Berhari-hari merenungi ujian ga ada gunanya, memang sudah saatnya beranjak dan menjalaninya. Semoga anak itu selalu dapat bertahan di tiap lika liku kehidupan dan dapat mengejar mimpi-mimpinya.

Rabu, 01 Oktober 2014

Saat Dilanda Kemacetan

Music by Enya terdengar dari headset yang kupasang ditelinga kiri mengiringi perjalananku pulang kantor menuju rumah dihari ke 19 bulan September 2014. Jalanan rame dan macet tidak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin karena jumat banyak yang ingin segera pulang dan menikmati weekend. Sesampainya di jalan sekitar Adityawarman tepatnya sebelah Toserba, jalanan mulai macet cenderung berhenti kadang sedikit-sedikit merambat. Melihat antrean panjang kendaraan membuat aku makin lesu. Apalagi dengar alasan macet karena jalan ditutup untuk persiapan acara peringatan 5 Oktober. Haduhhhh acara masih 2 minggu lebih kenapa menutup jalan mulai sekarang.

Alunan music pun tak dapat mengademkan suasana hati. Sampai mataku tertuju pada anak perempuan usia sekitar 6 taunan. Ia memakai atasan pink dan celana panjang krem yang bagian pantatnya kotor mungkin akibat duduk disembarang tempat yang mudah meninggalkan noda. Tangan kirinya menggenggam plastik es yang telah habis dan menyisakan es batunya saja. Sesekali ia sedot berharap es batu tersebut mencair sedikit demi sedikit. Sedangkan tangan kanannya mendorong gerobak sampah yang ditarik oleh bapaknya. Sesekali tangan kirinya pun juga turut mendorong gerobak. Lalu selang beberapa menit datanglah perempuan mendekatkan motornya pada gerobak sampah. Ia mengulurkan tangan yang menggengam sejumlah uang dan diberikannya ke anak kecil tersebut. Setelah itu segera berlalu mencari celah agar motornya cepat melaju dari kerumunan macet. Anak itu berjalan menyusul bapaknya yang ada dimuka gerobak,
“Pak iki lho” sambil tangan kananya memberikan uang kepada bapaknya.
“ Lho teko sopo?”
“Teko mbak iku.” Kepalanya memberi isyarat menunjuk pada permpuan yang memberinya tadi.
Aku sudah berada didepan mereka dan mencuri-curi pandang penasaran sambil melihat anak tersebut dari spion motor. Diusianya yang masih dini harusnya ia bermain dan bersenang-senang bersama teman-temannya tapi malah membantu bapaknya mendorong gerobak sampah. Setelah diberi uang tidak disimpan dan digunakan untuk kesenangannya malah diberikan semua kepada bapaknya. Seolah ia paham betul akan kebutuhan orang tuanya sehingga rela memberikan uang yang diperoleh untuk bapaknya supaya dapat digunakan menyambung kebutuhan hidup. Berbanding terbalik dengan anak-anak yang sempat aku beri les privat dulu ketika masih kuliah. Tiap aku datang memberi les, pembukanya tak jarang mereka menunjukkan mainan baru dari orangtuanya. Belum cukup mainan-mainan itu seusai les pun kadang ada yang menagih janji orang tuanya untuk membelikan es krim,mainan atau pergi ke mall jika mereka rajin dan menurut saat les.

Tak terasa akhirnya motorku pun lolos dari kemacetan dan dapat melanjutkan perjalanan dengan lancar. Walaupun masih terngiang dengan potret kehidupan anak perempuan pendorong gerobak sampah yang aku lihat tadi. Ada pertanyaan yang terbesit dibatinku, Ia membantu orangtuanya pilihan dia sendiri atau dipaksa oleh orang tuanya ya. Meskipun dipaksa dari raut wajahnya tak menyiratkan wajah yang grundel karena terpaksa. Padahal ia dalam keadaan berat ketika mendorong gerobak,belum lagi suasana yang bikin gerah wajahnya tetap adem. Berbeda dengan wajah kami yang kusut, lesu, ga sabaran saat dilanda macet. Wajahnya yang adem mengajarkanku untuk tetap tenang dan menikmati ritme kehidupan meski kadang tak selalu mudah, berbatu terjal dan penuh liku.

Senin, 16 Juni 2014

Saling Memahami Ibarat Berbicara di Telephone

"Apa?ga kedengaran suaramu..." Gusar Gita yang sedang mengangkat telephone sambil membereskan kertas-kertas di atas meja kerjanya dengan terburu-buru.
"Hmm telingamu di bersihin dulu napa.ini volume udah lumayan kalee"
"Bukan masalah bersih ato ga telingaku.tapi suaramu itu amat kecil dan jauh. Mau ngobrol apa sich udah tau ini masih jam kerja."
"Oke2 jadi begini ntar sore aku jemput adek setelah itu ke supermarket dan mengantar adek ke tempat les,nah tolong kamu jemput adek usai les ya.aku akan jemput mama arisan" Kata Juni dengan meloudspeaker telephone karena ia sedang asig memberi warna2 pada kukunya alias kutekan.
"Ok aku jemput mama usai arisan brati ya."
"Hadehhhh kenapa ga paham2 sich,kamu jemput..." Tiba2 tut..tut..tut..suara telephone terputus..

Dalam cuplikan percakapan via telephone itu tadi si Juni dengan santai menjawab obrolan si Gita. Padahal posisi Gita masih di tempat kerja. Dan pastinya masih sibuk dengan kerjaan. Malahan Juni meloudspeaker telephone karena tangannya asig kutekan sehingga tidak bisa pegang telephone. Acap kali kita menomorsatukan kepentingan pribadi tanpa melihat kondisi lawan. Juni amat santai menjawab telephone dengan suara pelan karena baginya volume seperti itu sudah dapat ia tangkap dengan jelas. Tanpa ia berpikir bagamaina kondisi lawan bicaranya di seberang sana. Andaikan Juni memahami kondisi Gita,di jam kerja pasti sibuk apa ga lebih baik kirim pesan singkat (sms). Atau dia berhenti sejenak mewarnai kukunya untuk fokus bicara kepada Gita sehingga telephone tanpa di loudspeaker. Mungkin itu akan lebih jelas dan terhindar dari salah paham dan emosi.

Dalam hidup itu hendaknya saling. Saling melayani, saling memberi, saling menghargai, saling memaklumi dan saling-saling yang lain. Seperti sedang bicara di telephone, pastinya harus menyesuaikan suara agar lawan bicara di seberang sana mendengar dan paham suara kita. Ga bisa kita egois karena diciptakan dan merasa suara saya kecil dan lembut maka saya berbicara pelan karena bagi saya dengan volume pelan saya masih mendengar suara saya apalagi meminta si lawan memaklumi kekurangan kita. Bayangkan jika saya tetap egois berbicara di telephone dengan suara pelan,apa yang akan terjadi dengan lawan bicara saya di seberang sana?pastinya seperti contoh di atas. Info yang di terima salah,lawan bicara marah,rencana ga berjalan dengan lancar. Dalam berelasi dengan siapa saja harusnya memperhatikan nasib lawan kita. Gampangannya posisikan diri kita di posisi lawan. Apa yang terjadi?bagaimana perasaan mereka?dengan begitu kita akan bisa belajar bagaimana memahami satu sama lain. Susah dijalani?? Yuk belajar bareng untuk sesuatu yang lebih baik…

Jumat, 06 Juni 2014

Cinta dan Seks bagi Seorang Pelacur (Eleven Minutes by Paulo Coelho)

Tiap gadis pasti berharap akan datangnya Cinta. Impian dan imajinasi akan sosok pria bak pangeran yang kelak akan menjemput gadisnya untuk dapat hidup bersama. Yah itu wajar jika sebagian gadis mempunyai harapan atau impian seperti itu. Begitupula kisah Maria dalam Eleven Minutes karya Paulo Coelho. Bermula dari cinta pertama Maria yang terpendam, tak sempat ia sampaikan pada usia sekitar 11 tahun membuat dia menyesal dan meninggalkan kenangan dalam relung jiwanya. Sampai ia beranjak dewasa dan memutuskan untuk pergi keluar dari tanah kelahirannya Brasil ke Swiss untuk mencari sensasi yang beda dalam karirnya dan berharap suatu saat ada seorang pria kaya yang melamarnya. Kepergiannya ke Swiss ternyata tak semulus yang ia pikirkan,keadaan malah menuntun dia menjadi seorang pelacur di tempat yang asing. Dengan menjadi pelacur dia semakin jauh dari cinta yang ia harapkan, yang ada malah dia harus melebur diri dan berusaha menemukan cara untuk menikmati seks. Uang dengan mudah ia raup tapi kepuasan seks untuk dirinya sendiri sama sekali tak ia dapatkan, sampai dia bertemu dengan tamu istimewanya yang mengajarkan cara mencapai nikmatnya seks,Maria benar-benar dapat menikmati apa yang disebut seks di dalam kesakitan dan penderitaan atau bisa disebut masokis.

Ia berusaha untuk tak jatuh cinta dengan para tamunya bahkan dia hampir tak mempercayai jika cinta murni dan tulus akan ia jumpai. Sampai suatu saat dia menjumpai Ralf Hart yang mengubah hidupnya, Ralf Hart dapat menyentuh hati Maria,tapi Maria mencegah hatinya agar tak hanyut dalam cinta ini. Semakin dia menahan untuk tidak jatuh cinta semakin membaralah cintanya. Yang ada di pikiran Maria,ia tak ingin mencintai seseorang yang akan membuat orang itu merasa terkekang,merasa dalam sangkar maka dia pun membebaskan Ralf Hart agar tak terkungkung dalam ikatan cinta. Tapi ternyata Ralf Hart memberikan Cintanya dengan tulus kepada Maria dan ia mengajarkan bahwa cinta tumbuh bukanlah dari hal seksual semata.

Manakah yang Maria pilih, orang yang dapat mengajarkan bagaimana nikmatnya seks atau pria yang mengajarkan apa itu cinta sejati atau malah dia akan kembali ke tanah kelahirannya? Paulo mengemas runtutan cerita perjalanan Maria seorang pelacur ini dengan apik, bahkan hal-hal yang dianggap tabu seperti seks ia gambarkan dengan vulgar. Paulo ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa seks ga hanya soal nafsu tetapi soal kesakralan. Menariknya lagi di setiap akhir bab,Maria menuliskan refleksinya selama seharian itu kedalam buku hariannya. Sehingga pembaca bisa merasakan apa yang di alami dan di rasakan Maria sebenarnya bukan hanya dari sudut pandang penulis saja.
“Tiga ratus lima puluh franc swiss untuk semalam?” | “Sebenarnya hanya empat puluh lima menit, dan kalau menghitung waktu untuk membuka pakaian, berpura-pura bersikap manis atau sayang, mengobrol sedikit, lalu berpakaian kembali, waktu yang dihabiskan untuk berhubungan intim hanya sekitar sebelas menit.” – halaman 115.
Kutipan tersebut jelas mengatakan bahwa waktu tersebut yang menginspirasi Paulo Coelho untuk menjadikan “Sebelas Menit” sebagai judul novel ini. Waktu rata-rata di mana para penikmat seks melakukan indahnya persetubuhan.
"Aku bukannya membelikan sesuatu yang kau inginkan,sebaliknya kuberikan sesuatu yang benar-benar milikku."
Bagiku kutipan tersebut menarik karena memberi pesan yang dalam. Jika kita memberikan dengan sukarela dan tulus ikhlas sebagian kecil dari hidup kita sama dengan memberi penghargaan atau suatu kepercayaan kepada orang tersebut untuk memiliki sebagian kecil dari kita.

Penasaran ingin mengetahui detail ceritanya? Silahkan baca aja langsung hehehehe  

Selasa, 03 Juni 2014

Ketika Mentari Kembali ke Peraduannya

Sang mentari perlahan kembali ke peraduaannya. Suasana malam yang tak biasa aku jumpai di kotaku Surabaya. Gelap, listrik belum masuk di dusun Sungai Dungan,Kalimantan Barat ini. Kami siap bergegas menuju hilir dengan lampu senter sebagai penerang jalan untuk berdoa Rosario bersama. Berjalan harus hati-hati karena kalau tidak akan menginjak ranjau dari kotoran sapi ataupun babi. Sesekali aku menyorotkan senterku ke sekeliling,wah ternyata sapi- sapi juga bergerombol sedang istirahat. Sapi ataupun babi di dusun ini di biarkan bekeliaran begitu aja tanpa di buatkan kandang. Saat itu ada 1 rumah tepat di sebelah kanan dalam perjalanan menunju hilir yang terang ternyata mereka menggunakan diesel sebagai pembangkit listrik.

Aku tak bisa melihat dengan jelas bangunan sekelilingku. Jika senter kuarahkan agak tinggi ke sekeliling dan mengenai mata orang lain takut membuat silau, jadi senter hanya aku buat untuk menerangi langkahku beberapa meter dari tubuh dengan sudut jatuh ke bawah. Dalam hati mana ya rumah yang akan di tuju. Nah, ketika langkah teman-teman mulai terhenti, pelan-pelan kami memasuki sebuah rumah yang Nampak dari pintu yang terbuka seperti ada pelita yang menerangi. Di dalam ternyata sudah berkumpul anak-anak duduk melingkar bersandar dinding rumah yang terbuat dari kayu. Setelah masuk melewati pintu utama aku duduk di sebelah kiri tak jauh dari pintu tersebut. Di dalam rumah ini tak perlu senter karena ada beberapa pelita tersebar di tengah-tengah kami yang sedang duduk melingkar. Pelita itu terbuat dari kaleng atau botol kaca bekas yang di beri sumbu dan di isi dengan bahan bakar.

Selang beberapa menit sejak kedatangan kami, seorang anak mulai memimpin doa Rosario tersebut. Butir demi butir Rosario telah kami doakan bergilir berlawanan dengan arah jarum jam. Yang hadir dalam Doa Rosario tersebut sekitar 25 orang mayoritas anak-anak dan hanya 7 orang dewasa dari rombonganku termasuk Ibu yang tinggal di rumah tsb. Sehingga ketika Doa tersebut di doakan bersama-sama yang lebih menonjol adalah suara anak-anak. Suara mereka bagaikan malaikat yang sedang bernyanyi. Apalagi suasana remang-remang menambah kekhusukan doa tersebut. Dari awal doa,nyanyian dan hingga pada akhir, anak-anaklah yang memimpin,mungkin dari awal sudah ada pembagian tugas sehingga waktu doa mereka langsung melaksanakan tugasnya masing-masing.

Usai doa, ibu yang empunya rumah mengeluarkan kudapan untuk kami yang hadir. Kudapan itu berupa ketan yang di beri parutan kelapa dan di letakkan di atas piring. Kami menikmati kudapan tersebut 1 piring untuk beberapa orang karena yang tersedia hanya beberapa piring. Tak lama kemudian bapak yang sekaligus kepala dusun memasuki rumah tersebut dan membawakan kopi dalam 1 teko dan beberapa gelas untuk rombongan kami. Dalam hati oh my God kopi lagi. Dari pagi sampai malam itu mungkin aku sudah 3 atau 4 kali minum kopi. Sedangkan biasanya sekali minum kopi bisa membuat mataku melek sepanjang hari tidak hanya itu kadang lambungku juga bermasalah kalau kebanyakan. Maka dengan berat hati aku tak minum kopi yang bapak itu suguhkan. Eitss menolak pemberian di sini ga hanya sekedar menolak tapi harus posek-posek kalau ga gitu bisa kena mali. Posek-posek itu dengan mencelupkan atau menyentuh makanan yang di suguhkan ke jari setelah itu menjilatnya. Kalau aku bilang sich mencicipi. Sedangkan mali itu sendiri artinya pantangan kalau dalam jawa hampir mirip dengan pamali. Menurutku hal itu bertujuan untuk menghargai orang yang sudah menyediakan untuk kita.

Semalam di dusun Sungai Dungan ini membuatku merasa nyaman hidup jauh dari sarana dan prasarana modern. Tanpa ada listrik mereka masih bisa berdoa dengan khusuk,belajar dalam remang-remang, tidak autis dengan telephone genggam. Ga ada kemacetan yang ada malah mereka bisa bermain puas dengan lahan yang amat berlimpah ruah.
Menyantap Kudapan Usai Doa Rosario

Rabu, 30 April 2014

Penebusan Dosa seorang Sahabat (The Kite Runner by Khaled Hosseini)


               
Akhirnya aku dapat membaca sampai tuntas novel “The Kite Runner” dalam waktu kurang lebih 2 minggu dengan tebal 490 halaman. Bagiku dalam waktu segitu sudah menjadi rekor membaca tercepat karena melihat history membacaku yang sangat lamban hehehe…
                Dari beberapa novel yang aku baca, novel ini benar-benar menarik bagiku. Khaled Hosseini mampu membawa pembaca merasakan dan melihat kekacauan Afganistan saat pertempuran Taliban dan Rusia. Kebengisan, kekejian dan perlakuan kejam terhadap anak-anak di deskripsikan secara detail di dalam novel ini.
                Novel ini berkisah tentang persahabatan 2 anak yaitu Amir dan Hassan. Amir adalah anak dari Agha Sahib (Baba) seorang duda kaya yang suka membantu orang lain dan berasal dari kaum Pashtun,kaum terpandang,sedangkan Hassan adalah anak Ali,kaum Hazara, pelayan Baba yang tinggal bersamanya. Walaupun mereka berbeda ras dan status social, hubungan Amir dan Hassan sangatlah erat. Kebiasaan mereka bermain layangan dan melakukan hal lain bersama-sama sangat mereka nikmati. Hassan mempunyai karakter yang setia dan pemberani berbeda dengan Amir yang berkarakter halus dan pengecut.
                Amir merasa kasih sayang Baba kepadanya terbagi oleh Hassan padahal Ia hanya anak seorang pelayan. Sehingga ada kecemburuan yang muncul dalam diri Amir terhadap Hassan. Amir berusaha mendapat simpati dari Baba dengan mengikuti turnamen layang-layang dan ternyata Ia berhasil memenangkan turnamen tersebut.  Ia bisa menunjukkan kemampuannya dan membuat bangga Baba terhadap dirinya. Kebahagiaan Amir tidak berlangsung lama setelah turnamen layang-layang itu, ia menemukan Hassan di perlakukan tidak senonoh  dan di kerjai oleh Assef dkk, mereka adalah gerombolan anak pembuat onar. Amir tahu dan melihat dengan jelas bahwa Hassan memperjuangkan layang-layang yang telah ia peroleh agar tidak di rebut oleh Assef. Amir pengecut sehingga ia bersembunyi, tidak berani membela Hassan dan pura-pura tidak tahu kejadian itu. Hal ini yang membuat Amir di rundung penyesalan dan rasa bersalah. Ia menyusun strategi untuk memfitnah Hassan mencuri Jam tangannya,sehingga Hassan dan Ali pun angkat kaki dari rumah Baba. Dengan hilangnya Hassan dari kehidupannya, ia berharap dapat melupakan dosanya yang telah mengabaikan Hassan ketika di kerjai Assef. Dan bisa dengan mudah merebut hati Baba agar sayang terhadap dirinya seorang. Beberapa tahun kemudian Baba dan Amir mengungsi ke Amerika karena keadaan Afganistan yang sudah porak poranda di bawah kekuasaan Taliban yang bengis.
                Itu awal permulaan cerita Amir memasuki kehidupan yang di hantui rasa bersalahnya. Akankah Amir dapat menebus dosanya terhadap Hassan? Atau dia dapat hidup tenang dengan Soraya,Istrinya yang ia jumpai di Amerika? Dan siapa sebenarnya Hassan itu? Semua di kemas secara gamblang dan apik oleh Khaled Hoseini dan tidak itu aja, pembaca juga akan di kejutkan dengan kejadian-kejadian yang tak terduga.
Di halaman awal Khaled Hossini menuliskan

“Sesuatu terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.”
Dari novel ini dapat di lihat bahwa kesetiaan sangatlah berharga dalam sebuah persahabatan. Ketika kesetiaan mulai di khianati hal itu akan menjadi sebuah momok yang akan terus menghantui hidup seseorang. Maka dari itu hargailah setiap kesetiaan yang  ada dengan siapa pun agar tak menjadi penyesalan di kemudian hari.
                 


Kamis, 20 Maret 2014

Belajar Solidaritas darimu


13E!!! senyumku langsung merekah melihat angka itu. 13 E adalah nomor seatku di Kereta Api Penataran jurusan Malang-Surabaya yang aku tumpangi.
“nang kene ta mbak?” aku mengganggukkan kepala menjawab pertanyaannya sambil tos dengannya. Dia anak laki2 yang tiba lebih dulu di bangku sebelahku. Perjalananku kali ini bersama anak-anak dari salah satu sanggar di Surabaya yang usai tampil di Malang.
Beberapa anak sudah kelihatan capek maklum mereka sejak Jumat berada di Malang. Dan kegiatan-kegiatan juga sudah mereka lakukan sehingga di akhir acara yaitu perjalanan pulang ini mereka nampak letih. Maka dari itu mereka sudah tak banyak beranjak dari bangkunya tidak seperti perjalanan waktu berangkat ke Malang yang sangat aktif ada yang becanda,main alat music, bernyanyi dan masih banyak lagi. Bisa jadi karena perjalanan pulang ini penumpang kereta lumayan padat sehingga membatasi gerak mereka.
Di tengah-tenngah suara kereta yang sedang melaju kami mulai membuka nasi yang memang dari awal tiap anak di bekali 1 kotak nasi untuk dapat di makan saat di kereta. Ada beberapa anak yang masih kenyang karena sebelum berangkat sudah makan,sehingga mereka menunda makan saat itu,ada pula yang langsung melahap makanan tersebut.
“Laper??” aku membuka obrolan dengan anak di sebelahku
“iya mbak” jawabnya sambil melahap makanan yang ada di pangkuannya.
Terlihat menyenangkan melihatnya makan hehehe. Saat nasiku mulai tinggal setengahnya aku melihat nasi anak tersebut masih tersisa banyak dengan lauk yang hampir utuh tetapi ia sudah menutup kotaknya dan tetap memangku nasinya. Hmmm aku pikir dia ga cocok lauknya atau dia sudah kenyang achh ga mungkin karena awal makan tadi ia sangat lahap.
“opo’o ga di habiskan?” celetukku padanya
“gpp mba’ ta buat orang rumah aja”
Seketika itu juga nasi yang sudah ada di dalam mulutku susah di telan. Seperti ada yang mengganjal di tenggorokanku. Aku terdiam sesaat membayangkan biasanya aku selalu makan ga habis, di luar aku makan enak tapi orang tua dan adikku di rumah sudah makan atau belum juga tak tau, makan dengan lauk apa juga tak tau. Hari itu aku belajar apa arti solidaritas dari anak tersebut. Solidaritas yang iya tunjukkan untuk keluarganya dengan berbagi makanan yang harusnya ia sendiri sebetulnya belum kenyang betul. Mungkin ia ingin berbagi supaya apa yang ia makan dan rasakan juga di rasakan oleh keluarganya.
Tak hanya itu saja yang membuatku tercengang. Ketika aku memberikan telurku padanya pun dia menolak. Padahal ku kira dia akan menerima supaya bisa jadi tambahan bekal untuk di berikan ke keluarganya. Akhirnya secara diam-diam aku memasukkan telur itu ke dalam kotaknya tanpa sepengetahuannya. Entah apa sebenarnya yang di pikirkan anak itu sehingga ia menolak pemberianku. Meskipun ia kekurangan tetapi tak sembarangan menerima pemberian orang lain. Tidak seperti sebagian orang2 dewasa yang makin serakah,sudah di beri kelimpahan masih dengan senang hati menerima pemberian orang lain yang kekurangan bahkan ada juga yang sampai merebut  hak orang lain.
Sungguh pelajaran berharga buatku melalui kejadian-kejadian kecil yang di tunjukkan anak itu padaku. Belajar itu ga perlu dari yang lebih senior atau yang lebih tinggi sekolahnya atau lebih pengalaman dari kita. Semua guru semua murid di mana pun kita berada pasti akan mempelajari hal-hal baru tinggal kita yang harus memahami dan memaknai  tiap kejadian atau situasi kondisi saat itu.